Waspadai Daging Dicampur Bahan Kimia

368
SIDAK PASAR : Bupati Semarang Mundjirin bersama jajarannya melakukan sidak daging di Pasar Karangjati, Kecamatan Bergas, Selasa (23/6) kemarin. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SIDAK PASAR : Bupati Semarang Mundjirin bersama jajarannya melakukan sidak daging di Pasar Karangjati, Kecamatan Bergas, Selasa (23/6) kemarin. (PRISTYONO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BERGAS-Meningkatnya permintaan kebutuhan bahan pokok masyarakat (kempokmas), berpotensi dimanfaatkan pedagang nakal. Karena itu, Pemkab Semarang meminta masyarakat mewaspadai barang-barang kadaluarsa. Termasuk daging yang dicampur dengan bahan kimia berbahaya untuk pengawet.

“Kami berharap jangan sampai ada barang-barang yang kadaluarsa. Daging yang dicampuri obat-obat kimia pengawet, maupun daging sapi dicampur celeng. Sehingga kami rutin melakukan pantauan dan pengawasan,” tutur Bupati Semarang, Mundjirin, di sela-sela pantauan harga dan stok bahan pokok di pasar Karangjati, Kecamatan Bergas, Selasa (23/6) kemarin.

Pantauan harga dan stok barang dilakukan serentak secara terpisah di beberapa pasar oleh sejumlah anggota DPRD Kabupaten Semarang; tim dari Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan; Dinas Pertanian Perkebunan dan Kehutanan; serta Dinas Peternakan dan Perikanan. Hasil pantauan di sejumlah pasar, ada kenaikan harga pada sejulah bahan pokok. Namun kenaikannya masih berkisar antara Rp 1000-2000.
“Kami sudah memeriksa bahan pokok termasuk daging dan bakso. Namun hasilnya baik, tidak ada campuran apapun. Sebenarnya mudah mengeceknya, kalau sama sekali tidak ada lalat yang hinggap pasti ada bahan kimianya,” kata Mundjirin yang juga berprofesi sebagai dokter.

Menurut bupati, dinas terkait sudah rutin melakukan pantauan kebutuhan pokok, baik hari-hari biasa maupun menjelang hari raya. Harapannya harga stabil. Dari hasil pantauan, kata Bupati, memang ada kenaikan harga, tapi masih batas wajar dan terjangkau. Sehingga belum perlu melakukan operasi pasar.

“Harga sayur naik karena mulai musim kemarau. Jadi produksinya berkurang, sedangkan permintaan meningkat. Kenaikan harga ini merupakan mekanisme pasar yang wajar, makanya harus ada stok. Jika barangnya kurang, harus segera operasi pasar,” kata Mundjirin.

Kabid Perdagangan Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Semarang, Imum mengatakan, tim pemantau dan pengawasan ini melibatkan Dinas Peternakan dan Perikanan, Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan serta Satpol PP. Masing-masing dinas mempunyai peran sesuai tugas pokok dan fungsinya.

“Pengawasan dilakukan terhadap barang dalam kondisi terbungkus (BDKT) serta berstandar nasional Indonesia (SNI). Kalau tidak berstandar, bisa dikenai sanksi. Sebelumnya di Pasar Kembangsari, Kecamatan Tengaran ditemukan ada daging tidak layak konsumsi dijual. Selanjutnya daging itu kita sita,” imbuhnya.

Sementara itu, Ketua DPRD Kabupaten Semarang, Bambang Kusriyanto yang melakukan pantauan di Pasar Bandarjo mengatakan, sejumlah harga kepokmas di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Semarang sudah merambat naik. “Kenaikan harga tersebut masih dalam batas wajar. Seperti harga beras sudah terpantau naik rata- rata Rp 1.000 hingga 500 per kilogram,” katanya. (tyo/ida)