Rektor Minta Pemalsu Ijazah Unnes Ditindak

399

SEKARAN – Sindikat penjualan ijazah palsu di Jakarta telah menampar civitas akademika Universitas Negeri Semarang (Unnes). Pasalnya, salah satu ijazah yang dipalsukan mencatut nama Unnes. Karena itu, Rektor Unnes Fathur Rokhman, berharap agar pelaku pemalsuan ijazah tersebut segera dijatuhi sanksi.

”Hasil penelusuran dan pengecekan kebenaran data kasus dugaan pemalsuan ijazah dan transkrip nilai ditemukan bahwa ijazah dan transkrip diganti nama, kode keamanan tidak diganti, dan nomor seri juga tidak diganti. Nama yang tertera di ijazah dan transkrip tidak pernah terdaftar sebagai mahasiswa Unnes,” beber Fathur kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (24/6).

Dikatakan, terungkapnya kasus jual beli ijazah yang menyeret nama Unnes tersebut berdasarkan keberhasilan aparat Polsek Tamansari Glodok dalam membongkar sindikat pembuat ijazah palsu jenjang S1.

”Hasil investigasi yang dilakukan oleh kepolisian langsung ditindaklanjuti oleh Unnes dengan melakukan penelusuran dan pengecekan data ke Jakarta. Hasilnya memang benar-benar palsu. Nama-nama yang tertera di ijazah tersebut memang tidak pernah terdaftar menjadi mahasiswa Unnes,” tuturnya.

Dikatakan Fathur, pemalsuan ijazah merupakan suatu tindakan pidana yang telah mencoreng dunia pendidikan. Ia berharap kepada penegak hukum segera melakukan tindakan hukum sesuai dengan aturan yang berlaku.

Kepala UPT Humas Unnes, Bambang Priyono, yang juga menjadi tim investigasi data, mengatakan, kini aparat kepolisian sudah menahan empat tersangka yang bertugas sebagai koordinator lapangan yang bertugas menerima order atau marketing. Sedangkan otak pencetakan ijazah palsu masih diburu pihak kepolisian.

”Pihak kampus Unnes juga mengharapkan peran aktif masyarakat agar melaporkan keberadaan praktik-praktik pemalsuan ijazah. Jangan biarkan adanya oknum tertentu yang melakukan prakti-praktik ilegal berupa pemalsuan ijazah. Kepada pihak kepolisian, saya berharap agar diusut tuntas dan berikan tindakan tegas kepada orang-orang atau pihak penerbit dan pengguna ijazah palsu,” katanya. (ewb/aro/ce1)