Hari Ini, Ramai- Ramai Cabut Berkas Pendaftaran

519
VERIFIKASI PIAGAM: Calon peserta didik baru diuji sesuai piagam prestasinya di SMA Negeri 3 Semarang kemarin. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
VERIFIKASI PIAGAM: Calon peserta didik baru diuji sesuai piagam prestasinya di SMA Negeri 3 Semarang kemarin. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Hari terakhir pendaftaran langsung penerimaan peserta didik (PPD) SMP Kota Semarang 2015, Jumat (26/6) hari ini, dipastikan akan banyak calon peserta didik yang mencabut berkas, dan memindahkannya ke sekolah lain yang posisinya lebih rendah. Pencabutan berkas sendiri dilayani maksimal pukul 10.00. Sedangkan pendaftaran ke SMP Negeri ditutup pukul 12.00.

Pantauan Jawa Pos Radar Semarang di jurnal PPD SMP, diperkirakan seratusan lebih pendaftar SMP Negeri 2 bakal terpental. Pada PPD tahun ini, sekolah favorit ini akan menerima peserta didik baru sebanyak 288 siswa. Sedangkan jumlah pendaftar yang melakukan verifikasi hingga kemarin (25/6) sebanyak 390 calon peserta didik. Untuk pilihan pertama, nilai akhir tertinggi 32,45 dan terendah 19,35. Sedangkan untuk pilihan kedua, nilai akhir tertinggi 30,90 dan terendah 15,25.

Dari keseluruhan pendaftar, diperkirakan nilai akhir 26,05 ke bawah bakal terpental alias tak diterima. Sebab dari jurnal yang ada, hingga urutan 288 sesuai daya tampung sekolah ini, nilai akhir terendah 26,05, yang kebetulan ada 8 calon peserta didik yang memiliki nilai sama. Dipastikan, calon peserta didik yang nilai kurang dari itu bakal mencabut berkasnya, dan pindah ke sekolah lain. Namun ada pula yang bertahan jika pilihan keduanya diperkirakan bisa lolos. Sebab, rata-rata nilai akhir yang terdepak masih relatif tinggi, khususnya yang nilai akhirnya antara 24,00-26,00.

Untuk PPD kali ini, jumlah pendaftar sekolah favorit yang melakukan verifikasi memang relatif lebih sedikit dibanding tahun lalu. Di SMPN 1, jumlah pendaftar yang melakukan verifikasi hingga kemarin sebanyak 388, SMPN 3 (461), SMPN 21 (367), SMPN 5 (432) dan SMPN 9 sebanyak 469 calon peserta didik. Beda dengan sekolah nonfavorit lain yang rata-rata di atas 500 pendaftar. Bahkan, khusus SMPN 10 dibanjiri hingga 1.116 pendaftar yang melakukan verifikasi. Disusul SMPN 36 (1.058), SMPN 31 (1.046), SMPN 41 (977), SMPN 42 (949) dan SMPN 40 sebanyak 916 pendaftar.

Ketua panitia PPD SMPN 2 Semarang, Martono, mengakui dibandingkan dengan PPD tahun lalu, memang mengalami penurunan jumlah pendaftar, namun jumlahnya tidak terlalu signifikan. Sayangnya, Martono tidak menyebutkan jumlah secara pasti perbandingan antara tahun kemarin dan tahun ini.

”Kami belum merekap secara keseluruhan. Namun memang sekilas jumlahnya sedikit menurun. Masih ada waktu esok (hari ini) yang nantinya jumlah tersebut dapat menjadi patokan resmi kami apakah jumlah pendaftarnya naik atau turun,” kata Martono.

Sementara itu, kemarin pelaksanaan PPD di Kota Semarang sempat diwarnai pengusiran wartawan saat hendak meliput di SMPN 3 kawasan Kampung Kali. Kejadiannya sekitar pukul 13.00. Sejumlah wartawan sempat dihalang-halangi oleh oknum aparat. Saat hal tersebut dikonfirmasikan ke Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang, pihak Disdik tak mengetahuinya.

”Kalau untuk pengamanan, kami menghubungi polsek setempat. Tetapi sejauh ini tidak ada laporan gangguan seperti yang terjadi di SMPN 3 Semarang. SMPN 3 aman-aman saja dari kemarin tertib. Tidak ada pengamanan khusus di sekolah. Tidak ada perintah untuk mengamankan PPD secara khusus,” ujar Ketua Panitia PPD Kota Semarang, Taufik Hidayat, Kamis (25/6).

Anggota Tim Pengaduan PPD Kota Semarang, BS Wirawan, yang datang ke SMPN 3 guna mengklarifikasi perihal dugaan adanya piagam abal-abal juga merasakan perlakuan serupa. Tiga oknum petugas tersebut mengusir tanpa menjelaskan alasannya. ”Terus terang saya menyayangkan adanya oknum aparat yang mengusir tim PPD ketika hendak mengklarifikasi dugaan piagam palsu,” kata Wirawan.

Saat dihubungi telepon genggamnya, Kepala SMPN 3 Semarang, Eko Djatmiko, mengatakan keberadaan aparat di sekolahnya bukan permintaan dirinya. Ia mengaku, hal tersebut sebuah kebetulan saja. ”Saya juga tidak keberatan jika kegiatan PPD di sekolah kita diliput. Itu malah bagus,” ujarnya singkat. (ewb/aro/ce1)