Permintaan Tinggi, Harga Buah Labu Naik

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

LARIS MANIS : Tradisi buka puasa dengan yang manis-manis atau kolak, memberikan keuntungan bagi penjual buah labu di Klero, Tengaran, Kabupaten Semarang. (Munir Abdillah/Jawa Pos Radar Semarang)
LARIS MANIS : Tradisi buka puasa dengan yang manis-manis atau kolak, memberikan keuntungan bagi penjual buah labu di Klero, Tengaran, Kabupaten Semarang. (Munir Abdillah/Jawa Pos Radar Semarang)

TENGARAN—Tradisi mengawali berbuka puasa dengan yang manis-manis berupa kolak, menyebabkan permintaan terhadap buah labu meningkat tajam. Akibatnya, harga buah yang biasa diolah menjadi kolak, dodol, geplak, stik labu ini, naik hingga 100 persen dari hari-hari biasa.

“Kalau hari-hari biasa, pembeli rata-rata adalah pedagang. Kemudian dijual kembali di Salatiga atau di Pasar Kembangsari,” kata Nurul, 43, penjual labu di Tengaran ini.

Setiap hari, kata Nurul, harus menyediakan 4-5 ton buah labu per hari. Saking tingginya permintaan masyarakat. “Biasanya para pedagang yang membeli buah labu, kemudian dipotong-potong dengan ukuran sedang dijual lagi kepada kalangan rumah tangga,” tuturnya.

Suryadi, pedagang kolak di Pasar Kembangsari mengaku, memasuki Ramadan jualan kolaknya selalu habis. Jadi setiap hari harus membeli buah labu agar bisa mengumpulkan uang ketika hari raya.

“Kolak saya jual dengan harga Rp 3000. Dijual setelah Asyar di depan Pasar Kembangsari sampai habis. Tapi alhamdulillah sebelum waktu berbuka puasa datang, biasanya sudah habis,” katanya.

Menurutnya, pendapatan paling tinggi terjadi ketika pertengahan bulan Ramadan. Karena banyak keluarga yang ingin makan di luar rumah. Atau kurang lebih sudah mulai masak di rumah. “Kalau awal-awal Ramadan begini, banyak yang masih makan dengan keluarga,” katanya. (abd/ida)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -