1.564 Peserta PPD SMP Mundur

412

CANDISARI – Penerimaan peserta didik (PPD) 2015 untuk jenjang SMP Negeri di Kota Semarang resmi ditutup, kemarin (26/6). Dari hari terakhir proses verifikasi, tercatat sebanyak 1.564 pendaftar mengundurkan diri atau tidak melakukan verifikasi. Jumlah tersebut merupakan pendaftar yang menempatkan pilihan pertama maupun pilihan kedua dari 42 SMP Negeri yang ada di Kota Semarang.

”Yang tidak melakukan verifikasi itu bisa jadi dikarenakan berbagai faktor. Mungkin setelah memantau jurnal PPD, nilai akhir yang dimiliki pendaftar itu dirasa tidak mampu bersaing dengan pendaftar lain, sehingga memutuskan untuk tidak melakukan verifikasi. Dan bisa jadi juga sudah memiliki pandangan sekolah lain. Misalnya mendaftar di sekolah swasta yang sudah mantap akan bisa diterima,” ujar Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang, Bunyamin kepada Jawa Pos Radar Semarang, Jumat (26/6).

Dari jurnal PPD yang terdapat di laman Disdik Kota Semarang, jumlah pendaftar yang tidak melakukan verifikasi pada sekolah pilihan pertama sebanyak 782 pendaftar. Sedangkan pendaftar yang tidak melakukan verifikasi pada sekolah yang menjadi pilihan kedua, juga tercatat 782 pendaftar. Sehingga total menjadi 1.564 pendaftar yang tidak melakukan verifikasi pada PPD SMP Kota Semarang yang diikuti 42 SMP Negeri.

”PPD online seperti ini selain bisa ditinjau secara transparan, juga menjadi pembelajaran melek IT (teknologi informasi) bagi siswa maupun orang tua siswa,” katanya.

Bunyamin menjamin, pelaksanaan PPD 2015 jenjang SMP berlangsung fair dan transparan. Usai ditutup pada pukul 11.00 kemarin, tidak akan ada lagi calon siswa yang bisa disusulkan untuk mengikuti pendaftaran tersebut. ”Setelah ditutup, tidak akan ada lagi yang bisa mendaftar,” ujarnya.

Sementara itu pada hari terakhir pendaftaran PPD di SMPN 2 Semarang nilai akhir terendah 19,20, sedangkan tertinggi 35,85.
Menurut Ketua Panitia PPD SMPN 2 Semarang, Martono, menurunnya nilai dari pendaftar jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya dikarenakan perolehan nilai rata-rata hasil ujian akhir sekolah (UAS) SD se-Kota Semarang turun.

”Jika dibanding tahun sebelumnya, memang rata-rata perolehan nilai UAS SD menurun, untuk rata-rata pendaftar di SMP Kota Semarang juga turun. Dari pandangan sekilas untuk passing grade-nya menurun,” katanya.

Martono mengatakan, menurunnya nilai rata-rata UAS SD se-Kota Semarang tersebut berimbas pada nilai-nilai pendaftar pada sekolah-sekolah favorit di Kota Semarang. Turunnya nilai tersebut, lanjutnya, bukan berarti prestasi siswa SD menurun. Namun lebih kepada tingkat kesulitan soal UAS SD yang cenderung naik.

”Orang tua semakin rasional. Mereka itu sebenarnya wait and see artinya kalau di dalam pendaftaran itu nilainya tidak mencukupi atau tidak masuk berdasarkan jurnal yang mereka analisa ya tidak mendaftar. Sehingga karena sistemnya terbuka, orang tua secara leluasa menentukan pilihannya. Mereka menentukan pilihan sesuai dengan perolehan nilai anaknya,” katanya.

Pada hari terakhir pendaftaran PPD di SMPN 2 Semarang, sebanyak 13 berkas yang sudah diserahkan kepada panitia PPD dicabut oleh orang tua siswa. Pencabutan tersebut lantaran nilai yang dimiliki oleh siswa tersebut dinilai kurang.

”Hari ini (kemarin) tidak sebanyak hari Kamis kemarin. Hari Kamis yang mencabut sebanyak 38 berkas. Kebanyakan pada lari kepada pilihan kedua. Kuota (daya tampung) yang disediakan oleh sekolah kami 288 siswa. Sedangkan sekarang pendaftar mencapai 359 siswa,” katanya.

Terkait dengan keberadaan piagam abal-abal pada proses PPD jenjang SMP, dikatakan Martono, dirinya masih menemukan. Namun ia enggan menyebut apakah piagam tersebut palsu atau bukan. Ia hanya berpedoman kepada peraturan PPD di mana jika perlombaan dalam piagam tersebut tidak mengetahui Dinas Pendidikan Kota Semarang, maka ia enggan menerimanya.

”Kita di SMPN 2 Semarang hanya menjalankan peraturan saja. Kalau dalam piagam tersebut saat penyelenggaraan lomba tidak mengetahui Dinas Pendidikan Kota Semarang, maka akan kami tolak langsung. Karena sesuai dengan peraturan PPD seperti itu. Sejauh ini sudah 3 piagam yang kami tolah, karena tidak mengetahui Dinas Pendidikan,” ujarnya.

Hal serupa juga terjadi di SMPN 1 Semarang. Fenomena cabut berkas juga terlihat di sekolah favorit tersebut. Pada hari terakhir pendaftaran PPD jenjang SMP, sebanyak 84 berkas dicabut dari sekolah tersebut.

Menurut Kepala SMPN 1 Semarang, Nusantara, hal tersebut merupakan bentuk kejelian orang tua siswa yang terus memantau jurnal PPD online. Menurutnya, orang tua siswa telah memperhitungkan dengan cermat terkait nilai dari anaknya. Adapun daya tampung sekolah tersebut sebanyak 288 siswa.

”Nilai tertinggi pendaftar di SMPN 1 Semarang hingga kini 30,40. Sedangkan nilai terendah 18,25. Yang mencabut sudah memperhitungkan tentunya. Sekarang ini kan pendaftar tinggal memantau jurnal. Berkas yang dicabut yang memiliki nilai akhir berkisar antara 18,00 sampai 25,40,” beber Nusantara. (ewb/aro/ce1)