Sengaja Perketat Urus Kehilangan Sertifikat

624

”Kalau iklan bareng-bareng seperti ini kan jatuhnya lebih murah daripada iklan sendiri. Karena ukurannya sama, tapi diusung beberapa orang. Yang jelas, ini hanya tawaran dari kami. Kalau pengurus mau iklan sendiri di koran, ya monggo.”

Ir H Jonahar
Kepala Kantor Pertanahan Kota Semarang

KETIKA kekecewaan korban kehilangan sertifikat tanah tersebut dikonfirmasikan, Kepala Kantor Pertanahan Kota Semarang, Ir H Jonahar menyatakan sengaja memperketat pengurusan kehilangan sertifikat tanah. Alasannya, agar penerbitan sertifikat pengganti tidak disalahgunakan.

Pasalnya, banyak kasus pernah terjadi, ada pemilik tanah yang sengaja menggadaikan sertifikat tanah di bawah tangan. Tapi kemudian mengaku kehilangan surat-surat tersebut. Jika pengurusan kehilangan ini tidak dikroscek ke banyak pihak, bisa-bisa terjadi kecurangan yang bisa merugikan banyak pihak.

”Ketatnya birokrasi ini bukan untuk mempersulit pengurusan. Tapi memang harus dirancang sedemikian rupa agar kami benar-benar tahu, apakah sertifikat tersebut benar-benar hilang atau ada permainan. Kadang, sertifikat yang dipinjamkan di bawah tangan, diakui hilang dan mengurus penerbitan sertifikat pengganti,” ungkapnya.

Untuk menyiasati hal itu, mengiklankan atau mengumumkan kehilangan sertifikat di media massa menjadi salah satu syarat utama mengurus penerbitan sertifikat pengganti. Dengan begitu, jika ada pihak yang merasa memegang sertifikat tersebut, bisa segera menghubungi Kantor Pertahanan Kota Semarang, di Jalan Ki Mangunsarkoro.

Dikatakan Jonahar, bila merasa memegang serifikat asli yang diiklankan oleh mereka yang merasa kehilangan, bisa segera mengurusnya. Apalagi jika yang memegang sertifikat tanah tersebut merasa dirugikan. Mungkin saja suratnya sedang disengketakan, dipinjamkan, atau yang lainnya. Biasanya, jika tidak bisa mengambil lewat jalur damai, kedua belah pihak bisa melanjutkannya di meja hijau.

”Karena itu, kami mengimbau untuk mengiklankan di koran yang wilayah edarnya luas. Paling tidak se-Jawa Tengah agar mereka yang memegang serifikat asli, bisa membaca pengumuman tersebut. Kalau mau iklan di kelas nasional seperti Jawa Pos malah lebih baik,” jelas Jonahar.
Pihaknya mengakui jika mengiklankan di koran-koran besar memang butuh dana besar. Karena itu, Kantor Pertanahan Kota Semarang membuat paket khusus, yaitu satu iklan display untuk mengumumkan kehilangan beberapa sertifikat sekaligus.

”Kalau iklan bareng-bareng seperti ini kan jatuhnya lebih murah daripada iklan sendiri. Karena ukurannya sama, tapi diusung beberapa orang. Yang jelas, ini hanya tawaran dari kami. Kalau pengurus mau iklan sendiri di koran, ya monggo. Biasanya kami memang beriklan (disalah satu media di Kota Semarang, Red), karena harganya lebih terjangkau dari media massa lain,” tuturnya.

Sementara itu, Jonahar juga menangkis tudingan pungutan liar (pungli) yang dipungut dari proses pengurusan kehilangan sertifikat tersebut. Bahkan dia berani menjamin tidak ada biaya sepeser pun yang diminta BPN kecuali untuk membayar jasa pengukuran tanah. Itu pun hanya Rp 50 ribu.

”Kalau yang habis sampai ratusan juta, mungkin tidak mengurusnya sendiri. Memang banyak yang kehilangan sertifikat tanah memasrahkan kepada biro jasa atau pihak ketiga untuk mengurusnya. Jika sudah begitu, jangan kaget kalau mereka mematok harga di atas biaya resmi BPN,” tegasnya. (amh/ida/ce1)