Nilai Puluhan Piagam Diturunkan

1677

SEKAYU – Proses verifikasi Penerimaan Peserta Didik (PPD) jenjang SMA hari terakhir di sejumlah sekolah favorit kemarin (29/6) dilakukan lebih selektif. Khususnya dalam menyeleksi berkas calon peserta didik. Di SMA Negeri 3 Semarang yang tahun ini akan membuka Kelas Cerdas Cepat (KCC) memberlakukan verifikasi superketat. Tidak semua piagam prestasi yang disodorkan calon peserta didik dapat tembus dengan mudah. Bahkan, panitia PPD setempat terpaksa menurunkan bobot piagam prestasi sejumlah pendaftar lantaran tidak sesuai dengan juknis (petunjuk teknis) yang ada.

Kepala SMAN 3 Semarang, Bambang Nianto Mulyo, mengatakan, banyak piagam yang tidak sesuai dengan nama perlombaan. Ia mencontohkan, pada piagam tertulis perlombaan tingkat internasional, namun peserta hanya diikuti tingkat lokal Indonesia.

”Kita memang sangat ketat terkait dengan piagam. Sehingga tidak sedikit piagam yang seharusnya nilai prestasi tingkat internasional, kita turunkan menjadi tingkat kota. Ada juga yang tingkat Provinsi Jateng, namun pesertanya hanya diikuti 2 kabupaten ya tetap kita turunkan menjadi tingkat kota,” kata Bambang kepada Jawa Pos Radar Semarang, Senin (29/6).

Dijelaskan Bambang, tidak sedikit pula piagam prestasi yang ditolak. Meski ditolak, berkas pendaftaran tetap diterima. Aksi protes juga kerap dilontarkan oleh orang tua calon peserta didik terkait dengan penurunan nilai tambah pada piagam tersebut.

”Puluhan jumlahnya. Pastinya berapa kita tidak merekap. Orang tua calon peserta didik memang banyak yang protes. Tapi setelah kita jelaskan maksud dan tujuan sekolah yakni ingin menyaring benar calon peserta didik, mereka (orang tua siswa) sepakat,” ujarnya.
Hingga hari terakhir proses verifikasi PPD SMA, pihaknya tidak menemukan piagam yang diduga abal-abal.

Bambang menambahkan, tahun ini sekolahnya akan membuka Kelas Cerdas Cepat atau kelas akselerasi. KCC yang digagasnya itu merupakan kelas percepatan yang ditempuh selama dua tahun oleh siswa. ”Proses seleksi kelas tersebut juga ketat. Ada tes khusus, yakni psikotes dan Tes Potensi Akademik (TPA). Satu kelas minimal 20 siswa. Baru mulai tahun ini. Yang sudah diterima nanti bisa dites dan masuk kelas itu. Tesnya tanggal 8-11 Juli. Dalam setiap semester, siswa harus memiliki standar IP (Indeks Prestasi) 3,37,” jelasnya.

Nilai NEM murni yang nantinya dapat mengikuti tes masuk kelas tersebut adalah minimal 37,00. Karena SMP belum memakai kurikulum 2013, maka nilainya diambil dari nilai unas, rapor dan tes khusus tersebut.

”Anak harus mengikuti 2 tahun penuh pembelajarannya. Nilai rapor SMP yang digunakan semester 1 sampai 5 mapel matematika dan IPA dengan rata-rata minimal 8,0. Hingga kini kita juga masih memikirkan jika siswa di tengah jalan tidak mampu mengikuti KCC dengan baik,” katanya.
Pada PPD tahun ini jumlah berkas calon peserta didik yang dicabut, kata Bambang, jumlahnya tidak sebanyak tahun kemarin. Hal tersebut dikarenakan sistem PPD online, seluruh orang tua dan siswa dapat memantau dengan mudah pergerakan nilai yang mendaftar di SMAN 3 Semarang.

”Dicabut karena mereka melihat adanya pergeseran nilai. Sehingga pindah ke pilihan kedua. Jumlah pendaftar 752, kuota yang kita sediakan 504. Paling banyak hari pertama sampai 422 pendaftar,” kata Bambang.

Fenomena cabut berkas kemarin juga ditemui di SMAN 5 Semarang. Sebanyak 27 berkas calon peserta didik dicabut lantaran berdasarkan pantauan jurnal PPD, nilai akhirnya dipastikan tidak lolos.

”Nilai di bawah 32,00 yang berasal dari dalam rayon banyak yang dicabut. Selain itu nilai di atas 32,00 yang berasal dari luar rayon juga banyak yang dicabut. Terkecil nilai yang dicabut 26,85. Alasan pencabutan dari orang tua calon peserta didik karena terjadi pergeseran nilai di jurnal PPD,” tutur Ketua Panitia PPD SMAN 5 Semarang, Arif Widiatmo kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Selain pergeseran nilai, yang menjadi pertimbangan orang tua calon peserta didik ketika melakukan pencabutan adalah daya tampung sekolah tersebut. Seperti diketahui, kebutuhan calon peserta didik di SMAN 5 Semarang sebanyak 384 siswa, dengan rincian 20 persen dari siswa miskin, 60 persen dari dalam rayon, 35 persen dari luar rayon, dan 5 persen dari luar kota.

”Mempertimbangkan hal itu juga. Sehingga banyak orang tua siswa yang merasa nilai anaknya terancam, sehingga melakukan pencabutan. Biasanya kalau di SMAN 9 merupakan pilihan pertama dan nilainya tinggi akan bertahan. Yang banyak dicabut justru yang pilihan kedua,” tutur Arif.

Arif juga menjelaskan pada prlaksanaan PPD tahun ini pihaknya belum menemukan piagam yang diduga palsu. Hal tersebut dikarenakan sebelum pelaksanaan PPD, pihak sekolah memberikan pengumuman berupa jenis piagam yang akan diproses jika digunakan untuk mendaftar di SMAN 5 Semarang.

”Piagam palsu tidak kami temukan. Namun piagam yang tidak sesuai dengan standar dalam perwal ditemukan. Yakni, piagam yang di dalamnya mengatakan lomba tingkat provinsi namun pesertanya hanya 2 kota dalam provinsi. Sesuai aturan Dinas Pendidikan, maka levelnya turun menjadi tingkat kota. Itu hanya ada 1 piagam,” katanya.

Berdasarkan pantauan statistik PPD jenjang SMA, nilai akhir tertinggi di SMAN 3 Semarang sebesar 45,20 yang berasal dari luar rayon. Sementara itu, nilai akhir terendah pendaftar di SMAN 3 Semarang, 26,20 yang berasal dari luar rayon. Sedangkan pada PPD tahun ini pendaftar dengan nilai tertinggi di SMAN 5 Semarang sebesar 40,35 yang berasal dari dalam rayon. Sementara pendaftar dengan nilai akhir terendah sebesar 19,20 juga berasal dari dalam rayon.

Di sisi lain, ribuan calon peserta didik PPD jenjang SMK secara serentak kemarin mengikuti Tes Khusus (TK) yang digelar di masing-masing satuan pendidikan. Tes ini menjadi bagian dari penentuan nilai akhir penerimaan PPD SMK, mencakup nilai unas sebesar 65 persen, ditambah dengan nilai TK berupa Tes Kesehatan dan Kompetensi Keahlian sebesar 35 persen.

”Untuk di SMKN 4 Semarang, ujian TK diikuti sebanyak 906 calon siswa didik. Ujian sendiri kita gelar dalam dua gelombang dengan mempertimbangkan jumlah ruangan dan peserta. Gelombang pertama dilaksanakan pada pukul 08.00-09.30 dan gelombang kedua pukul 10.00-11.30,” jelas Ketua PPD SMKN 4 Semarang, Masrob, di sela ujian TK.

Meski dibagi menjadi dua gelombang, dirinya memastikan soal yang diujikan tidak akan bocor karena berbeda meski kisi-kisi soalnya sama. Adapun materi ujiannya sendiri lebih banyak ke psikotes, sebanyak 40 soal. ”Nilai maksimal yang bisa raih nanti 40, meski dikonversi senilai 35 persen, sesuai dengan rumus nilai akhir untuk PPD SMK,” katanya.

Ia menambahkan, untuk pelaksanaan ujian UT sendiri berlangsung cukup lancar, meski ada beberapa siswa yang terlambat datang pada ujian gelombang pertama. ”Ada enam calon siswa yang terlambat, karena ada banyak alasan, mulai dari ketiduran, lupa jadwal hingga ketidaktahuan mereka. Semuanya kita tetap hargai dan berikan kelonggaran dengan ikut ujian, namun dilaksanakan di ruang berbeda. Tidak menjadi satu dengan peserta lainnya,” imbuh Masrob.

Diakui, jumlah pendaftar PPD SMK 2015 relatif menurun jika dibanding dengan tahun lalu. Demikian juga dengan nilai unas. ”Secara kumulatif jumlah pendaftar turun sedikit, namun sudah memenuhi kuota. Sedangkan untuk nilai unas SMP sebagai salah satu syarat untuk masuk ke jenjang SMK rata-rata turun,” tandasnya.

Hal berbeda terjadi di SMKN 8 Semarang, dengan jumlah peserta mencapai 774 calon siswa, pelaksanaan ujian TK digelar dalam satu gelombang saja. ”Kita gelar dalam satu gelombang dari pukul 08.00-09.30. Kita memiliki ruangan yang cukup untuk menggelar ujian dalam waktu bersamaan dengan masing-masing kelas berisi 36 peserta,” jelas Kaprodi Multimedia SMKN 8 Semarang, Ardan Sirodjudin.

Selain itu, kata dia, yang ikut ujian TK ini merupakan calon peserta pilihan pertama, sedangkan pilihan kedua tidak digelar. ”Untuk jenjang SMK, satu calon siswa didik hanya boleh milih satu sekolah dengan dua jurusan yang berbeda. Jadi, calon peserta didik pilihan pertama, otomatis juga menjadi peserta didik pilihan kedua. Jadi tidak ada masalah,” bebernya.

Dari jumlah peserta TK, sebanyak 11 orang berhalangan hadir dan otomatis tersisih. Sementara materi ujian sendiri meliputi tes kejuruan serta tes potensi akademik atau psikotes. ”Untuk tes kesehatan dan tes praktik kemampuan dasar sudah kita laksanakan pada awal pendaftaran,” tuturnya.

Secara statistik pendaftaran, dari kuota sebanyak 5.028 kursi yang tersedia dari 11 SMKN di Kota Semarang, jumlah pendaftar PPD SMK mencapai 18.738 peserta, sedangkan yang melalukan verifikasi sebanyak 17.438.

Sementara itu, hari ini, penerimaan peserta didik (PPD) tingkat SMP Negeri Kota Semarang 2015 akan diumumkan. Dari sebanyak 14.406 pendaftar, diperkirakan sebanyak 3.489 siswa bakal terpental. Sebab, dari 42 SMP negeri di Kota Semarang, daya tampungnya sebanyak 10.917 siswa. Sejumlah SMP negeri yang dibanjiri pendaftar, seperti SMPN 10, SMPN 31, SMPN 36, SMPN 41 diperkirakan akan menjadi ’kuburan’ bagi pemilik nilai akhir rendah.

Di SMPN 10 misalnya, untuk pendaftar pilihan pertama mencapai 401 calon peserta didik, sedangkan daya tampungnya 255. Sehingga 146 peserta diperkirakan bakal kandas. Untuk pilihan kedua di sekolah ini, pendaftarnya mencapai 730 calon peserta didik. Nasib mereka tergantung di pilihan pertama lolos atau tidak. Dari jurnal terakhir SMPN 10 untuk pilihan pertama, nilai akhir tertinggi 28,15. Sedangkan nilai akhir terendah sesuai daya tampung 255 adalah 19,85. Praktis, pemilik nilai akhir di bawah itu kemungkinan diterimanya sangat kecil.

Sekolah yang bakal banyak menolak pendaftar adalah SMPN 36. Untuk pendaftar pilihan pertama tercatat 446 pendaftar, sedangkan pilihan kedua sebanyak 625 pendaftar. Sedangkan daya tampung sekolah ini sebanyak 287. Nilai akhir tertinggi pilihan pertama tercatat 26,50, sedangkan yang terendah sesuai daya tampung 287 siswa, sebesar 19,20. Itu artinya, pemilik nilai akhir di bawah itu harap-harap cemas. Apalagi kemungkinan masih tergusur oleh pemilik nilai akhir lebih tinggi dari pendaftar pilihan kedua. (ewb/aro/ce1)