Orang Ingat Akan Selamat

328

hikmah ramadan 14web

Oleh: Ahmad Maftuh
Pengajar pada Pondok Pesantren Darul Falah Besongo Semarang

RAMADAN ibarat musim hujan, apa pun yang ditanam akan tumbuh subur berbunga dan berbuah. Seperti keindahan sang pujaan dalam semerbak wangi, kumbang-kumbang berduyun-duyun mempersembahkan pengabdian dan perjuangan demi sang pujaan. Begitu juga umat muslim mengisi bulan suci Ramadan ini dengan berbagai kesibukan yang bersifat pengabdian dan ibadah yang mulia, baik dari berbagai macam sisi. Mengusahakan kebaikan-kebaikan demi ketenteraman dengan penuh usaha maksimal.

Dalam rangka menjaga stabilitas keimanan dan ketenteraman salah satu kuncinya ialah ingat kepada Allah SWT yaitu dengan berzikir. Sebab dengan mengingat Allah manusia akan merasa diawasi dengan penuh kebijaksanaan. Berzikir kepada Allah meliputi membaca kalimah thayyibah, membaca Alquran, bertasbih, bertahmid, beristigfar membaca salawat Nabi, dan zikir-zikir yang lain.

Dalam sebuah riwayat dari Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah berfirman barang siapa menghabiskan waktunya berzikir kepada-Ku, tanpa meminta kepadaku, niscaya Aku berikan kepadanya yang lebih utama daripada yang aku berikan kepada mereka yang meminta”. Berizikir dalam artian ini ialah menyebut asma Allah secara lisan dan menjadi mengakar pada akhlak yang baik. Tertanam dalam sanubari untuk memperkuat daya rangsang akal untuk ingat dan ingat kepada Allah. Sehingga dapat dikondisikan perilaku-perilaku berdasarkan aturan Allah bukan semata nafsu yang merusak. Sebab zikir termasuk amalan anggota badan dan hati sekaligus yang harus selalu dilakukan setiap saat. Allah menyediakan pahala yang besar bagi orang yang mau berzikir (QS 33: 35). Dengan begitu proses mengingat tidak sekadar wacana dalam diri dalam perlu sebuah usaha dan tatanan yang mendukung untuk mengingat yaitu berzikir. Dengan peyerahan secara menyeluruh kepada Allah dalam segala perkara agama baik yang berkaitan pada dunia maupun yang berkaitan dengan akhirat.

Dalam ketegasan Allah SWT yang termaktub dalam kitab suci Alquran yaitu akan selalu bersama dengan hamba-Nya yang berizikir. Sehingga Allah memberikan pertolongan-Nya, baik melalui rahmat-Nya, hidayah, dan taufik kepada hamba-Nya. Sehingga hal ini akan mempermudah kehidupan dunia dan akhirat. Dan secara tidak langsung berzikir akan memberikan ketenangan sehingga akan berdampak secara masif terhadap pola pikir (QS 13:28) Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram.

Pentingnya berzikir ini tidak sekadar sebagai sebuah amalan, namun sebagai media jalan menuju kepada Allah secara hakiki. Menumbuhkan ketauhidan dan akidah yang berlandaskan asas kehambaan secara mutlak. Sebab mengingat Allah di setiap jangka waktu secara benar-benar akan membuat diri seseorang mengembalikan urusan itu kepada Allah, karena segala urusan itu datang dan kembali kepada Allah.

Dengan begitu kita akan terjaga dari perbuatan-perbuatan keji termasuk dendam, sombing, kufur, takabur dan lain-lain. Jiwa yang tenteram dengan mengingat Allah yang dipenuhi dengan beratus-ratus hingga tak terhingga hitungannya atas penyebutan asma-Nya, tidak mudah terpengaruh pada situasi yang melanda di masyarakat. Menjaga stabilitas kehidupan yang dipenuhi dengan sikap kebijaksanaan dan persaudaraan.

Sehingga pada titik puncaknya jika seseorang benar-benar bisa menegakkan dan menghidupkan ingatannya kepada Allah secara luas akan terbentuk pribadi yang berakhlak lurus. Akhlak yang sesuai dengan ajaran Allah. Pendengaran dan pandangannya selalu tajam, waspada, dan selektif serta peka. Tidak hanya itu saja, disebutkan dalam kitab al-hikam Ibnu Atha’illah bahwasanya seorang hamba yang berzikir sudah larut kedalam penyerahan, segala urusan hidupnya akan diurus oleh Tuhannya, seperti seorang bayi yang baru lahir yang senantiasa dipelihara, dijaga dan dlindungi oleh ibunya. (*/zal/ce1)