Marak, Gepeng Asal Luar Kota

380
DIRAZIA: Sejumlah gelandangan dan pengemis (gepeng) yang terjaring razia dinaikkan truk patroli Satpol PP Kota Semarang guna dilakukan pembinaan. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIRAZIA: Sejumlah gelandangan dan pengemis (gepeng) yang terjaring razia dinaikkan truk patroli Satpol PP Kota Semarang guna dilakukan pembinaan. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Sebanyak 127 pengemis gelandangan dan orang tua telantar (PGOT) tiban yang sering mangkal di jalanan Kota Semarang terjaring razia petugas Satpol PP Kota Semarang. Ratusan gepeng (gelandangan dan pengemis) tersebut didominasi dari pendatang luar Kota Semarang.

Kepala Satpol PP Kota Semarang, Endro P Martanto, mengaku terus menggencarkan penertiban PGOT yang ada di Kota Semarang. Sebab, menjelang puasa hingga Lebaran di Kota Semarang rawan munculnya gepeng tiban.

”Razia PGOT yang kita lakukan sejak awal Ramadan sampai sekarang (kemarin, Red) berhasil menertibkan sekitar 127 orang. Para PGOT yang terjaring razia akan dikirim ke tempat rehabilitasi yang ada di Kota Semarang untuk mendapat pembinaan,” ujar Endro kepada Jawa Pos Radar Semarang, Rabu (1/7).

Pihaknya telah menerjunkan anggota satpol PP di sejumlah titik di Kota Semarang yang menjadi kantong pengemis. Menurutnya, tempat yang paling rawan dipakai mangkal para PGOT adalah Bundaran Kalibanteng, Masjid Kauman Johar, Bundaran Majapahit, Peterongan serta kawasan Tugu Muda.

”PGOT yang tertangkap dan dilakukan pendataan ternyata paling banyak dari luar Kota Semarang. Hampir 70 persen didominasi dari luar kota, seperti Magelang, Purwodadi, Demak dan Kendal,” katanya.

Pihaknya menambahkan, para PGOT juga kerap kucing-kucingan dengan petugas satpol PP. Saat ini, para PGOT melakukan aksinya di tempat seperti terminal dan lingkungan masjid. Hal ini dilakukan lantaran aksi di jalanan dinilai kurang aman dari razia satpol PP.

”Seperti pada penertiban sekarang ini dengan petugas Dinsospora, ada 14 yang tertangkap termasuk pemain jatilan. Tadi (kemarin) juga ada anak di bawah umur, tapi kita kembalikan pada orang tuanya. Mereka terjaring di dalam terminal. Alasan mereka memilih terminal, karena di jalan sering dikejar-kejar petugas satpol PP,” ujarnya. (mha/aro/ce1)