22 Awak Bus Tes Kesehatan, 4 Mengidap Penyakit Gula

468
CEK KESEHATAN: Awak bus di Terminal Terboyo saat menjalani tes kesehatan jelang arus mudik Lebaran. (M. HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CEK KESEHATAN: Awak bus di Terminal Terboyo saat menjalani tes kesehatan jelang arus mudik Lebaran. (M. HARIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Jelang arus mudik dan balik Lebaran, sebanyak 22 sopir dan kondektur bus Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) dan bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) menjalani tes kesehatan di Terminal Terboyo, Kamis (2/7). Dari 22 awak bus yang menjalani tes kesehatan tersebut, 4 orang diketahui mengidap penyakit gula dengan kadar tinggi.

M. HARIYANTO

TES kesehatan ini melibatkan petugas gabungan dari Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kota Semarang, Dinas Kesehatan dan kepolisian. Setiap awak bus menjalani tiga tes kesehatan, yakni tes urine, tes tekanan darah, dan tes gula.
Kepala UPTD Terminal Terboyo, Slamet Widodo, mengatakan, pemeriksaan kesehatan dilakukan dengan tujuan untuk memberikan pelayanan prima kepada para pemudik lebaran yang melewati Terminal Terboyo.

Menurutnya, tes kesehatan layak jalan tersebut nantinya juga akan dilakukan secara rutin hingga mendekati Lebaran. ”Sejak Selasa lalu, baik sopir dan kondektur yang ada di Teminal Terboyo diwajibkan menjalani tes kesehatan. Sampai sejauh ini sudah mencapai 22 orang. Selain itu, armada bus yang disopiri juga dicek oleh tim mekanik,” ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Kamis (2/7).

Para kondektur dan sopir yang menjalani tiga tes kesehatan diketahui ada 4 orang menderita gula tinggi. Sedangkan armada bus yang dilakukan uji kelayakan jalan oleh tim mekanik ditemukan satu bus yang tidak laik jalan.

”Selain itu, dari tes kesehatan tadi ditemukan seorang sopir yang menggunakan obat penenang. Mungkin dia kecapekan. Namun dokter menyatakan yang bersangkutan masih bisa mengoperasikan kendaraan. Sedangkan bus yang diketahui tidak laik jalan tidak akan dipasangi stiker khusus angkutan Lebaran yang dikeluarkan oleh Kementerian Perhubungan,” tegasnya di sela pengecekan bus yang dihadiri Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI dr H Mohamad Subuh tersebut.

Mohamad Subuh mengimbau para pengemudi bus angkutan lebaran yang melakukan perjalanan selama 4 jam untuk mengambil waktu jeda beristirahat. Hal ini dilakukan untuk menjaga stamina tetap prima.

Dikatakan, arus mudik lebaran 2015 ini jumlahnya sangat besar, di atas 100 juta warga Indonesia. Hal ini terkait dengan libur panjang. Cuti bersama ini juga cukup panjang sekitar 10 hari.

Menurut dia, musibah kecelakaan setiap tahun mengalami peningkatan dan angka kematiannya cukup tinggi, terutama di jalur darat. “Standarnya 4 jam sekali, pengemudi harus istirahat. Itu kalau di jalan yang bagus. Sedangkan kalau kondisi jalan yang kurang bagus paling tidak 3 jam sekali harus istirahat,” pesannya.

Pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan provinsi dan kabupaten dengan membuat pos pelayanan kesehatan sebanyak 3.600 pos di seluruh Indonesia dan terfokus di Sumatera dan Jawa. Selain itu, akan melibatkan 887 rumah sakit di seluruh Indonesia, termasuk rumah sakit rujukan dan puskesmas yang dilibatkan. “Posko kesehatan itu sekarang (H-14) sudah mulai beroperasi,” katanya.

Kepala UPTD Terminal Terboyo, Slamet Widodo, mengimbau kepada setiap bus nonekonomi untuk melengkapi alat pemadam kebakaran, pemecah kaca, dan pemasangan stiker tarif yang sesuai dengan tarif batas atas dan batas bawah. Sesuai peraturan, tarif non ekonomi tarif batas atas adalah Rp 168 per penumpang per kilometer. Sedangkan tarif batas bawah adalah Rp 103 per penumpang per kilometer.

”Tapi setelah kita lakukan pemeriksaan juga masih ada bus yang belum memasang tarif di dalam bus, termasuk alat pemadam dan pemecah kaca. Alat darurat ini bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya hal yang membahayakan dalam bus itu sendiri,” ujarnya.

Seorang petugas kesehatan, Maulana S, mengakui, dari hasil tes kesehatan yang dilakukan ditemukan 4 orang yang memiliki penyakit gula dengan kadar tinggi dari 22 awak bus yang menjalani tiga tes kesehatan. Menurutnya, penyakit kadar gula tinggi ini disebabkan pola makan yang tidak teratur dan terkontrol.

”Dari 22 orang yang menjalani tes kesehatan rata-rata terkontrol. Hanya saja, 3-4 orang mempunyai penyakit kadar gula tinggi. Jadi, kalau punya penyakit diabetes harus bisa mengontrol pola makan,” katanya.

Slamet menambahkan, untuk pengecekaan armada bus meliputi pemeriksaan ban, rem, dan lampu. Apabila ditemukan ban yang sudah gundul atau rem yang kurang maksimal, langsung disuruh untuk menggantinya. ”Biasanya untuk armada bus itu faktor utama adalah rem dan ban,” ujarnya (hid/aro/ce1)