Disdik Siapkan Piloting

326
KEBIJAKAN BARU : Siswa sekolah dipotret di sela kegiatan belajar mengajar di sekolah belum lama ini. Dinas Pendidikan Kota Semarang tengah menyiapkan beberapa sekolah untuk pemberlakuan kebijakan sekolah lima hari. (Radar semarang files)
KEBIJAKAN BARU : Siswa sekolah dipotret di sela kegiatan belajar mengajar di sekolah belum lama ini. Dinas Pendidikan Kota Semarang tengah menyiapkan beberapa sekolah untuk pemberlakuan kebijakan sekolah lima hari. (Radar semarang files)

SEMARANG – Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang akan mengusulkan beberapa sekolah yang nantinya akan diberlakukan program belajar selama lima hari dalam seminggu. Hal tersebut dikatakan oleh Kepala Disdik Kota Semarang, Bunyamin saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang.
”Sifatnya sekolah tersebut adalah piloting. Kita pilih beberapa sekolah yang saat ini sedang kita persiapkan. Pada intinya nanti tidak semua SMA dan SMK di Kota Semarang akan melaksanakan sekolah 5 hari tersebut,” katanya, Minggu (5/7).
Pihaknya telah menerima surat edaran lima hari sekolah dari Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo. Diakui Bunyamin, beberapa sekolah memang sudah mengajukan usulan ke Disdik Kota Semarang untuk melaksanakan sekolah lima hari tersebut. ”Namun di situ kita ada persyaratannya, yaitu sekolah yang bersangkutan harus membuat sebuah konsep pembelajarannya terlebih dahulu dan dipaparkan ke Dinas Pendidikan. Nantinya kami akan mempertimbangkan dengan masak,” tuturnya.

Sementara itu, terkait segala kebutuhan siswa dalam pelaksanaan sekolah lima hari itu pihaknya mengimbau sekolah agar tetap memperhatikan. Hal itu dikarenakan jika nanti berlangsung sekolah lima hari, kegiatan belajar mengajar akan sampai sore hari. ”Hal lain yang harus diperhatikan sekolah yaitu terkait bagaimana anak istirahat, karena jam pelajaran akan menjadi lebih panjang. Pihak sekolah juga harus membekali dan menjelaskan kepada guru,” katanya.

Sementara itu, Kepala SMAN 3 Semarang, Bambang Nianto mengatakan meskipun sekolah dilaksanakan selama lima hari, pelayanan terhadap siswa tidak boleh berkurang. Termasuk pelaksanaan ekstrakurikuler sekolah. ”Yang lebih dipersiapkan sekolah yaitu persiapan psikologis siswa. Karena jika dilaksanakan sekolah lima hari tersebut, kondisi psikologi siswa akan berubah. Siswa nantinya juga akan melakukan penyesuaian-penyesuaian, sehingga kita perlu mempersiapkan. Kita pada prinsipnya siap jika akan melakukan sekolah lima hari,” katanya.

Terpisah, Pakar Pendidikan Fathur Rokhman menganggap wacana pelaksanaan sekolah lima hari di wilayah Jateng dinilai belum cocok. Rencana itu, perlu dilakukan kajian mendalam agar tidak merugikan berbagai pihak, terutama pada siswa. ”Ya, itu memang perlu dikaji sangat dalam, apakah nanti efektif atau tidak. Jika dilaksanakan lima hari, tentunya akan ada pemadatan jam belajar pada hari selain Sabtu-Minggu kan? Nah ini kira-kira bisa membebani siswa atau tidak,” ujar Fathur. (ewb/ric/ce1)