Koruptor Raskin Diringkus Di Sumatera

715
DIRINGKUS : Kapolres Semarang, AKBP Latif Usman memintai keterangan tersangka kasus korupsi raskin, Desa Popongan, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, Ikroni. Tersangka berhasil ditangkap anggota Satreskrim Polres Semarang di Banyuasin, Sumatera Selatan, setelah dua tahun menjadi buronan. (PRISTYONO/jawa pos RADAR SEMARANG)
DIRINGKUS : Kapolres Semarang, AKBP Latif Usman memintai keterangan tersangka kasus korupsi raskin, Desa Popongan, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, Ikroni. Tersangka berhasil ditangkap anggota Satreskrim Polres Semarang di Banyuasin, Sumatera Selatan, setelah dua tahun menjadi buronan. (PRISTYONO/jawa pos RADAR SEMARANG)

UNGARAN – Setelah menjadi buronan selama kurang lebih 2 tahun, tersangka kasus korupsi beras miskin (raskin) Desa Popongan, Kecamatan Bringin, Ikroni, 42, berhasil diringkus petugas Satuan Reskrim Polres Semarang. Tersangka yang sebelumnya menjabat sebagai kepala urusan keuangan Desa Popongan itu diringkus di kawasan Banyuasin, Sumatera Selatan.

Untuk diketahui, kasus korupsi Raskin di Desa Popongan, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, terungkap dari laporan warga ke Polres Semarang. Polisi kemudian menetapkan Kepala Desa Popongan, Muhsinin sebagai tersangka. Saat ini Muhsinin sudah menjalani hukuman di LP Kedungpanes Semarang. Sementara itu tersangka lainnya yakni Ikroni yang menjabat Kaur Keuangan Desa Popongan kabur saat akan ditangkap polisi.

“Saya sebenarnya hanya menuruti perintah atasan. Beras itu dijual di Desa Truko, lalu seluruh uangnya yang mengelola Pak Kades. Saya hanya kebagian Rp 200 ribu per bulan selama 4 tahun sejak 2009-2012. Kasus ini mulai terungkap pada 2013, lalu saya kabur ke Sumatera,” kata Ikroni, kemarin ditemui di Mapolres Semarang.

Setelah kasus korupsi mencuat dan dilaporkan ke Polres Semarang oleh sejumlah warga, Ikroni langsung kabur karena takut ditangkap polisi. Selama buron, Ikroni bekerja sebagai buruh sadap karet. Selain itu bapak dua anak itu juga nyambi membuka jasa paranormal. Bahkan Ikroni sengaja tinggal di daerah terpencil untuk menyulitkan polisi melacaknya.

“Padahal saya sudah tinggal di daerah yang sulit ditempuh. Tapi akhirnya tertangkap juga, ya sudah saya pasrah dan tetap saya jalani,” katanya pasrah.

Kapolres Semarang AKBP Latif Usman mengatakan, tersangka Ikroni terlibat kasus korupsi dengan Kepala Desa Popongan, Muhsinin. Berdasarkan audit BPKP tertanggal 17 Oktober 2013, total kerugian negara yang ditimbulkan dalam kasus tersebut sebesar Rp 284 juta. Dalam kasus tersebut mantan Kades Popongan Muhsinin saat ini sudah menjalani hukuman. Sedangkan Ikroni baru tertangkap karena buron selama 2 tahun sejak mengetahui Kepala Desanya ditetapkan sebagai tersangka.

“Dia sudah 2 tahun menjadi buronan dan akhirnya kami tangkap juga. Kami terapkan Pasal 2, Pasal 3, Pasal Juncto Pasal 18 ayat (1) huruf b UU RI Nomor 31 Tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi, dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara,” ungkap Kapolres didampingi Kasat Reskrim Polres Semarang, AKP Herman Sophian. (tyo/ric)