Lewat Calo, SIM C Rp 600 Ribu, SIM A Rp 750 Ribu

3386
RAWAN PUNGLI: Ujian praktik menjadi momok bagi pemohon SIM. Banyak yang harus mengulang, hingga ujung-ujungnya lewat jalan pintas membayar. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
RAWAN PUNGLI: Ujian praktik menjadi momok bagi pemohon SIM. Banyak yang harus mengulang, hingga ujung-ujungnya lewat jalan pintas membayar. (NURCHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Pengurusan surat izin mengemudi (SIM) masih rentan terjadi praktik pungli (pungutan liar) dan percaloan. Jawa Pos Radar Semarang menelusurinya di kantor Satlantas Polrestabes Semarang.

PUNGUTAN liar dalam pembuatan SIM terbilang rapi dan terstruktur. Seakan masyarakat rela merogoh kocek lebih dalam agar semuanya usuran bisa lancar. Meski Satlantas telah membuat langkah-langkah resmi dengan beberapa ujian, masih saja tak sedikit pemohon SIM yang memilih jalur pintas lewat bantuan biro jasa alias calo. Diduga para calo ini ’bermain’ dengan orang dalam Satlantas untuk memuluskan ”kliennya’ mendapatkan SIM.

Jika Anda bertandang ke Kantor Satlantas di kawasan Kota Lama, pasti akan disuguhi poster berukuran besar mengenai bagaimana langkah-langkah mengurus SIM. Dari pengambilan formulir, tes kesehatan, ujian tertulis, ujian praktik, pengambilan foto, hingga pelunasan administrasi.

Bagi yang ingin mendapatkan SIM, biasanya langsung diarahkan untuk melakukan tes kesehatan yang dibanderol Rp 50 ribu. Setelah itu, baru mengisi formulir-formulir yang disertakan data pribadi dengan melampirkan kartu identitas. ”Setelah itu, nunggu panggilan ujian tertulis. Kalau lolos, langsung ikut ujian praktik. Memang banyak yang gagal di ujian praktik ini. Banyak yang mengulang hingga tiga atau empat kali,” ungkap salah satu pengawas ujian, Sujadi.

Jika semua ujian dinilai lolos, lanjutnya, peserta baru melunasi administrasi Rp 100 ribu. ”Jadi kalau tidak lolos ya tidak bayar. Bisa mengulangi lagi di ujian yang gagal,” imbuhnya.

Dikatakan Sujadi, yang gagal ujian, harus menunggu paling tidak seminggu untuk bisa mengulanginya. Dia menyarankan, bagi yang gagal di ujian praktik, bisa latihan dulu setuap sore. Track atau tempat ujian memang sengaja dibiarkan sesuai standar dan diawasi petugas untuk latihan.

”Jarang ada yang sekali ujian praktik langsung lolos. Kalau di SIM C, biasanya hanya satu dua orang yang dinyatakan lulus. Kalau sebulan, sekitar 400-an lah. Padahal pendaftarnya per hari bisa sampai 100 orang,” ungkapnya.

Hal itu membuktikan bahwa ujian praktik terbilang menyusahkan pencari SIM. Meski memang itu sudah standar nasional, tapi banyak masyarakat yang merasa dirugikan. Praktis, tidak sedikit yang memilih jalan pintas. Selain tidak perlu susah-susah, mereka tidak perlu membuang-buang waktu.

”Bayar saja. Rp 600 tinggal foto, kok. Tiga hari SIM-nya bisa diambil. Tidak perlu ikut tes tertulis maupun praktik,” ungkap salah satu pencari SIM C yang enggan disebutkan namanya.

Warga Semarang Tengah itu mengaku memang lewat calo atau jalur yang tidak resmi. Baginya, ikut tes atau tidak, itu bukan hal yang penting lantaran merasa sudah punya skill berkendara dan pengetahuan mengenai rambu-rambu lalu lintas.

”SIM itu kan digunakan kalau pas ada Operasi Candi. Artinya formalitas saja. Kalau kecelakaan di jalan, itu kan memang kecelakaan. Bukan gara-gara tidak punya SIM. Memangnya ada jaminan kalau punya SIM bisa bebas dari kecelakaan?” ungkapnya.

Sementara itu, pencari SIM A yang juga tidak mau disebutkan namanya mengaku memilih lewat calo karena lebih praktis. Hanya Rp 750 ribu, sudah dijamin dapat SIM meski semua ujian gagal total. ”Memang ikut ujian. Tapi cuma formalitas karena saya gagal di ujian praktik. Kenyataannya ini bisa dapat SIM,” cetusnya.

Praktik, percaloan ini terbilang vulgar. Meski di kantor Satlantas sudah terpampang tulisan anticalo, tetap saja pencari SIM ditawari biro jasa tak resmi ini. Bahkan ketika baru memarkir kendaraan di halaman Kantor Satlantas, sudah ada yang menawarkan jasa jalan pintas ini. Seolah tanpa tedeng aling-aling, dengan blak-blakan calo-calo tersebut menawarkan jasa.

”Kalau bikin SIM bisa lewat saya. Rp 600 ribu untuk SIM C, dan Rp 750 untuk SIM A. Tidak usah ujian. Hanya untuk formalitas saja. Nanti ikut saya bisa langsung foto. Tiga hari jadi, kok,” ungkap salah satu calo.

Entah bagaimana bisa mereka memberikan pelayanan mudah seperti itu. Jika tidak ada ’orang dalam’ yang terlibat, praktik ini tidak mungkin bisa dilancarkan.

Bantah Ada Calo SIM
Kasatlantas Polrestabes Semarang AKBP Pungky Bhuana Santoso menegaskan tidak ada calo dalam pembuatan SIM di Satlantas Polrestabes Semarang. ”Tidak ada calo. Silakan dicek sendiri, saat ini sudah tidak ada calo,” terang Pungky saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (5/7).

Menurut Pungky, pihaknya telah menetapkan aturan yang sangat ketat untuk mengantisipasi adanya calo. ”Saat ini masyarakat juga telah mengikuti mekanisme yang ada,” jelasnya.

Dia menegaskan, masyarakat Semarang yang hendak membuat SIM, baik SIM A maupun SIM C dipersilakan melewati prosedur yang ditentukan. Ada mekanisme ujian sesuai dengan aturan dan tempat yang disediakan di halaman Satlantas Polrestabes Semarang.

Sejauh ini, pemohon SIM di Satlantas Semarang cukup banyak, per hari rata-rata mencapai 100 orang pemohon. Ujian praktik dilaksanakan mulai pukul 08.00 hingga 15.00. Jika masyarakat takut tidak lulus ujian SIM, Pungky menjelaskan bahwa kelompok masyarakat dipersilakan mengajukan permohonan kegiatan pelatihan. ”Tujuannya untuk mempermudah pemohon SIM lulus ujian,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan, kelompok masyarakat yang dimaksud misalnya kelompok siswa di satu sekolah, kelompok karyawan perusahaan, kelompok pemuda di kelurahan atau yang lainnya. ”Kami siap memberi pelatihan. Silakan mengajukan permohonan pelatihan,” katanya.

Mengenai penjelasan pasal 77 Ayat 3 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 yang menyebut bahwa mendapatkan SIM pemohon harus memiliki kompetensi keterampilan mengemudi melalui Lembaga Pendidikan dan Keterampilkan Mengemudi (LPKM) atau dari belajar sendiri. Namun demikian, lanjut Pungky, pemohon tidak wajib melalui LPKM. Akan tetapi bisa belajar sendiri untuk bisa memenuhi kompetensi agar lulus ujian praktik pembuatan SIM.

Memang, sejauh ini hasil ujian praktik pemohon SIM masih sangat memprihatinkan. Dari jumlah 250 orang, rata-rata hanya kurang lebih 10-15 orang yang lulus. Materi paling sulit adalah ketika diminta putar balik. ”Pemohon jika ingin mengetahui bagaimana proses ujian paktik SIM juga bisa mengunduh video di website milik Satlantas Polrestabes Semarang,” pungkasnya. (amh/amu/aro/ce1)