Incumbent Kuat, Koalisi Bingung Tentukan Calon

463
PETAHANA: Pasangan Hendrar Prihadi-Hevearita Gunaryanti Rahayu usai mendapatkan rekomendasi PDIP beberapa waktu lalu. Pengamat menilai pasangan ini cukup kuat dan berpeluang besar memenangkan pilkada Kota Semarang. (Radar Semarang files)
PETAHANA: Pasangan Hendrar Prihadi-Hevearita Gunaryanti Rahayu usai mendapatkan rekomendasi PDIP beberapa waktu lalu. Pengamat menilai pasangan ini cukup kuat dan berpeluang besar memenangkan pilkada Kota Semarang. (Radar Semarang files)

SEMARANG – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dianggap cukup percaya diri dengan menurunkan rekomendasi lebih awal dalam pilkada Kota Semarang. Hal ini tidak terlepas dari kuatnya posisi petahana Hendrar Prihadi saat ini. Koalisi gabungan parpol lain harus memiliki amunisi yang kuat jika ingin mengalahkan pasangan Hendrar Prihadi-Hevearita Gunaryanti Rahayu.

Pengamat politik Undip Teguh Yuwono menganggap posisi Hendi, panggilan akrab Hendrar Prihadi sebagai incumbent cukup kuat. Sosok tersebut dinilai cukup baik, peduli masyarakat, dan tidak emosional. Jika dipasangkan dengan Hevearita yang berasal dari kalangan profesional, Teguh menganggap pasangan tersebut hingga saat ini belum tertandingi. ”Dinamika pilkada di Kota Semarang tidak seramai kota lain karena posisi petahana yang kuat. PDIP melihat peluang yang besar untuk menang sehingga menurunkan rekomendasi lebih awal,” kata Teguh.

Dikatakan Teguh, pilkada merupakan pertarungan figur. Figur yang bagus akan berpeluang besar menang jika didukung mesin partai yang kuat. ”Seperti yang kita tahu, PDIP punya basis massa yang loyal. Saya lihat hanya PDIP yang paling siap. Koalisi partai lain justru bingung mau mencalonkan siapa,” tandasnya.

Dia menambahkan jika ingin melawan pasangan Hendi-Ita, parpol lain harus mengusung sosok yang memiliki kelebihan dari segi program dan pengalaman. Partai juga harus memiliki amunisi yang kuat. Baik amunisi sosial maupun finansial. ”Momen seperti saat ini tidak mudah bagi Soemarmo atau Mahfudz Ali sekalipun untuk mengalahkan Hendi-Ita. Yang menjadi masalah justru karakteristik pemilih yang pragmatis transaksional,” ungkapnya. (ric/ce1)