Dukun Gadungan Keruk Rp 700 Juta

462
DIINTEROGASI: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Burhanudin saat menginterogasi tersangka Aris Ardhianto kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIINTEROGASI: Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Burhanudin saat menginterogasi tersangka Aris Ardhianto kemarin. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

BARUSARI – Penipuan dengan modus penggandaan uang kembali menelan korban. Pelakunya, Aris Ardhianto, 45, warga Ngablak Indah RT 5 RW 4 Bangetayu Kulon, Genuk, Semarang. Dalam aksinya, tersangka berpura-pura menjadi dukun spesialis pengganda uang. Ia mengaku bisa mendatangkan uang secara gaib.

Dengan menggunakan perantara benda-benda aneh, seperti jenglot, bethara kala, dan seperangkat alat ritual, dia mampu mengelabui kurang lebih 10 korban. Hebatnya, Aris mampu mengeruk dana hingga Rp 700 juta dari para pasiennya. Aksinya berakhir setelah para korban melapor ke polisi. Aris pun tak berkutik saat diringkus aparat Rekrim Polrestabes Semarang.

Selain Aris, polisi juga menangkap Eko Wiyanto, 38, warga Jalan Dewi Sartika Barat No 50 RT 5 RW 6 Kelurahan Sukorejo, Gunungpati, Semarang. Eko berperan sebagai marketing atau orang yang mencarikan pasien.

”Saya menjanjikan kepada para pasien, setiap uang Rp 70 juta akan bisa saya gandakan menjadi Rp 1 miliar,” terang Aris saat gelar perkara di Mapolrestabes Semarang, Selasa (7/7).

Untuk meyakinkan pasiennya, dukun gadungan yang selalu mengenakan blangkon Jawa itu menceritakan kemampuannya dalam membuka pintu rezeki dari langit.

”Saya jelaskan ada persyaratan dan ritual yang harus dilakukan agar uangnya berlipat ganda. Syaratnya adalah menyetorkan uang sebagai bahan untuk digandakan. Lalu mereka saya suruh mengikuti petunjuk saya saat mengikuti ritual agar pintu rezeki dari langit terbuka,” bebernya.

Pasien pun berdatangan dengan membawa segepok uang. Uang tersebut kemudian dimasukkan ke dalam kardus besar dan dibungkus kain putih. Setelah itu, korban diajak masuk ke sebuah ruangan yang telah di-setting beraroma mistis dengan wangi minyak misik, dupa, serta dilengkapi jenglot, bethara kala, jimat keris Nogopetolo dan telur angsa.

Setelah prosesi ritual disiapkan, setiap pasien diajak mengikuti tahap-tahap ritual. ”Di ruang gelap, mereka saya tunjukkan jenglot dan bethara kala. Mereka saya jelaskan bahwa ini makhluk siluman (jenglot) yang bisa membantu menggandakan uang,” katanya.

Untuk meyakinkan pasiennya, dukun palsu ini menggunakan batu getar yang memang memiliki daya getar. Sehingga boneka makhluk aneh tersebut terkesan benar-benar bernyawa. ”Jenglot dan bethara kala itu sebenarnya hanya boneka mainan yang saya beli di Pasar Johar seharga Rp 300 ribu,” akunya polos.

Sedikitnya ia memiliki 10 orang pasien yang menginvestasikan uang, masing-masing korban memberikan uang beragam, mulai Rp 25 juta, Rp 30 juta, hingga Rp 75 juta. Aris kemudian mengajak pasiennya untuk ritual di sebuah kamar gelap yang dilengkapi wewangian menyan.

Aris memerlihatkan uang ratusan juta di kardus yang terbungkus kain putih. Para pasiennya kemudian diminta menirukan mantra-mantra Jawa sebagai pembuka pintu rezeki. ”Hong wilaheng sekareng bawono langgeng, marmarti kakang kawah adi ari-ari getih puser, kadangingsun sedulur papat kalimo pancer,” ujarnya sembari memperagakan mantranya di hadapan Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Burhanudin.

Uang ratusan juta di dalam kardus tersebut merupakan uang asli yang dikumpulkan dari sejumlah korbannya. ”Setelah selesai ritual kurang lebih dua jam, para pasien saya suruh pulang sambil berdoa untuk menunggu hingga uang tersebut berlipat ganda,” ujar pria lulusan SMA ini.

Pasien menunggu hingga tiga minggu, jika menanyakan apakah uang tersebut sudah berlipat ganda atau belum, tersangka menjelaskan bahwa belum berhasil. Tersangka meminta korban menunggu kembali sampai korban bosan menanyakan. ”Padahal uang itu saya gunakan sendiri untuk bersenang-senang. Semuanya hanya tipu-tipu saja,” tutur ayah empat anak ini.

Tersangka Eko Wiyanto mengaku tidak mengetahui kalau Aris merupakan dukun palsu. ”Saya percaya saja karena omongannya meyakinkan. Kemudian saya diminta membantu mencarikan pasien yang ingin uangnya digandakan,” katanya.

Tidak main-main, Eko yang membantu pekerjaan dukun palsu itu mendapat bagian hingga Rp 45 juta. ”Saya belakangan malah tekor, sebab dituntut mengganti oleh para pasien. Uang bagian saya sudah habis untuk mengganti kepada para pasien. Saya kenal karena ikut paguyuban kejawen Kolockro. Para korbannya berprofesi pedagang,” katanya.

Kapolrestabes Semarang Kombes Pol Burhanudin mengatakan, tersangka telah melakukan praktik penipuan dengan modus dukun pengganda uang ini sejak tiga tahun lalu. ”Dari 10 korban, kerugiannya mencapai Rp 700 juta,” ujarnya.

Burhanudin mengimbau kepada masyarakat agar tidak tergiur dengan iming-iming yang tidak masuk akal. ”Tapi faktanya, zaman sekarang masih ada orang yang percaya hal semacam ini. Sebaiknya menggunakan akal sehat,” ungkapnya.

Atas perbuatannya, tersangka akan dijerat pasal 378 KUHP dengan ancaman hukuman 4 tahun penjara. (amu/aro/ce1)