Dominico Sebut Atasan Mengetahui

532

SEMARANG – Terdakwa kasus dugaan korupsi pembobolan ATM Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cabang Pandanaran, Semarang Dominico Bagus Aditya W, 25, kembali menjalani sidang di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (8/7). Alumni Undip Semarang ini yang juga mantan pegawai kontrak bagian teller ATM menyebutkan dua atasannya bagian Asisten Manajer Operasional (AMO) dan Supervisor melakukan pembiaran serta tidak mengawasi bawahannya sebagaimana pedoman ketentuan yang ada di BRI.

”Saat merangkap menjadi teller dan petugas ATM 2013- 2015, supervisor saya Ibu Kurnia (dipecat karena bermasalah) dan Dewi Hapsari (masih bertugas). Mereka tahu saya melakukan pengisian uang ke mesin ATM, merangkap sebagai teller dan petugas,” kata Dominico di hadapan majelis hakim yang dipimpin Dwiarso Budi Santiarto.

Dominico menyebutkan, sebelum diperiksa kejaksaan, Tutut Sih Suhono dikatakan dirinya mengetahui bahwa dirinya merangkap tugas. ”Atasan mereka adalah AMO, yaitu Pak Wirawan (FX Riyanto Wirawan) yang sudah pensiun saat ini,” imbuhnya.

Alumni Undip ini mengaku bekerja sejak 2012 sebagai petugas ATM sebelum akhirnya menjadi teller. Sejak saat itu, ia merangkap jabatan sebagai teller yang bertugas meminta uang ke AMO. ”Saya sudah izin dan diizinkan. Mulai mengambil uang Rp 10 juta per mesin ATM awal 2013 dan bertahap. Setiap akan stok opname, saya ambilkan uang dari mesin lain,” katanya.

Usai mengambil, ia mengaku tak mengalkulasi jika uang yang diambil seluruhnya miliaran. Selain untuk kepentingan pribadi, Nico menggunakan uang untuk usaha dan mendaftar CPNS di Kemenkeu. ”Ada untuk deposito, usaha jual beli handphone dan mobil. Dan setiap usaha itu tidak mesti untung. Termasuk investasi ke teman Rp 300 jutaan, ditipu mendaftar CPNS Rp 350 juta serta untuk jalan-jalan dan ke kafe,” tambahnya.

Dalam persidangan juga memeriksa lima saksi, tiga dari Kanwil BRI Jateng, yakni Susanto SE, Amung Nugroho SE dan Dimas Setiawan R. Mereka di bagian e-Channel dan jaringan ATM serta IT, Sulistyorini, Manajer Operasional dan Yuliani, AMO pada BRI Cabang Pandanaran. ”Ada petugas khusus yang memasukkan ke mesin ATM. Harusnya tidak bisa merangkap. SOP-nya dipisah. Dalam hal ini, yang bertanggung jawab adalah atasan terdakwa (supervisor) dan AMO. Kenapa praktiknya hanya satu orang,” kata saksi Susanto.

Seperti diketahui, pembobolan di bank bersaham pemerintah 51 persen dan swasta 49 persen itu terjadi dengan modus tidak memasukkan sebagian uang kas pada sejumlah mesin ATM. Dominico, sejak 2013 telah mengambil uang dari kaset ATM yang seharusnya diisikan ke mesin ATM.

Pada 9 Februari 2015 kasusnya mulai terungkap, setelah terjadi pergantian Asisten Manajer Operasional (AMO) dari FX Riyanto Wirawan ke Yuliani. Tersangka dijerat primer Pasal 2 ayat 1 jo Pasal 18 UU nomor 31/ 1999 sebagaimana diubah dan ditambah UU nomor 20/ 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Subsider Pasal 3 jo Pasal 18 UU yang sama. (jks/fth/ce1)