Hartuti Bacakan Pledoi sambil Menangis

442

SEMARANG – Terdawakwa kasus korupsi pengajuan kredit Bank Jateng, Hartuti, kembali menjalani persidangan dengan agenda pledoi (pembelaan) di Pengadilan Tipikor Semarang, Rabu (8/7). Dalam persidangan kemarin, pledoi pribadi yang dibacakan sempat membuat haru peserta sidang yang digelar di lantai dua. Bahkan keluarga Hartuti dan pengunjung sidang untuk umum sempat terlihat meneteskan air mata ketika pledoi dibacakan dengan suara terus terisak, suaranya semakin pelan karena tangisanya bisa dirasakan pengunjung sidang untuk umum.

Tangan kanan terdakwa juga terlihat masih sakit, sehingga ia dibantu penasihat hukum ketika pembagian pledoinya. Dalam pledoi pribadinya Hartuti minta keadilan kepada majelis hakim dan jaksa penuntut umum (JPU). Dalam pledoi pribadinya, terdakwa Hartuti mengatakan, dirinya merupakan ibu dari empat anak dan dua cucu yang mana anak dan cucunya masih membutuhkan kasih sayang dan dirinya merupakan kepala keluarga.

”Suami saya hanya seorang tukang parkir di seputar Simpang Lima Semarang yang mulia. Saya sedih harus meninggalkan orang tua, suami dan anak dan cucu dan menghuni lapas. Dari lubuk hati paling dalam saya tidak bermaksud melakukan perbuatan melanggar hukum. Ini merupakan introspeksi diri saya yang mulia,” kata Hartuti sambil sesekali mengusap air matanya.

Dia meminta kepada majelis hakim dan JPU untuk memberi hukuman yang adil. Menurutnya dirinya adalah korban atas kasus yang dialaminya. Ia juga menyebutkan, dakwaan JPU tidak sepenuhnya benar. ”Biarlah ini menjadi pelajaran bagi saya. Saya sebagai terdakwa yang harus bersalah jatuhkanlah putusan yang adil yang mulia,” imbuhnya.

Kuasa hukum terdakwa, Ade Yuliawan mengatakan, kasus yang dialami kliennya merupakan kredit macet bank, sementara mengenai tanda tangan palsu yang ada bukanlah perbuatan kliennya. Ia juga menganggap kliennya korban. Ia menilai yang membuat kop surat, stempel dan tanda tangan itu Yanuelva Etliana (masih buron). Sehingga ia meminta keadilan pada majelis hakim dalam memberi putusan. ”Klien kami sama sekali tidak ada kaitannya dengan kredit macet ini. Kami minta diringankanlah, klien kami juga tanpa anggaran dana, saya membantu beliau (Hartuti) karena teman sekolah,” katanya.

Seperti diketahui, terdakwa dalam perkara ini dijerat pasal 2 ayat 1 junto pasal 3 Undang-Undang (UU) Nomor 31/ 1999 sebagaimana diubah dan ditambah dalam UU 20/ 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Kasus korupsi di Bank Jateng konvensional maupun Bank Jateng Syariah pada 2011 tersebut juga melibatkan terpidana Yanuelva Etliana yang kini masih buron. Modus korupsi yang merugikan keuangan negara Rp 39,11 miliar itu dengan menerbitkan 24 Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK) dan 24 Surat Perintah Pembayaran (SPP) fiktif.

Dokumen yang dipalsukan itu dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (Cipkataru) Jateng, Bagian Otonomi Daerah (Otda) Semarang, serta BPPT Kota Semarang. Atas SPMK dan SPK fiktif, akhirnya dana pinjaman cair sebesar Rp 14,35 miliar di Bank Jateng, sedangkan Bank Jateng Syariah cair Rp 29,5 miliar. Namun, pengembalian kredit Bank Jateng itu macet Rp 13,88 miliar, sedangkan Bank Jateng Syariah kredit macetnya Rp 25,23 miliar. (jks/fth/ce1)