Sungai Meluap, Warga Tuntut Normalisasi

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

KENA DAMPAKNYA : Warga menunjukan peta pengerukan sungai Wonokerto yang harus dilakukan Pemkab Pekalongan. Sehingga aliran sungai tidak kembali meluap, dan menggenangi pemukiman warga. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)
KENA DAMPAKNYA : Warga menunjukan peta pengerukan sungai Wonokerto yang harus dilakukan Pemkab Pekalongan. Sehingga aliran sungai tidak kembali meluap, dan menggenangi pemukiman warga. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)

KAJEN – Ratusan rumah di Desa Wonokerto Wetan dan Kulon, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, khususnya yang berada di tepi sungai Wonokerto dua pekan terakhir sering kebanjiran. Banjir terjadi karena meluapnya air sungai hingga menggenangi rumah warga.

Meluapnya air sungai tersebut disebabkan karena permukaan air laut naik. Sedangkan sungai Wonokerto sudah lama mengalami pendangkalan sehingga air tidak dapat mengalir ke laut. Sebagian warga sudah mengantisipasi dengan membuat tanggul dari karung pasir untuk membendung luapan sungai Wonokerto tersebut.

Warga menuding banjir yang selama ini terjadi kian meluas ke Desa Wonokerto Wetan dan Kulon karena adanya pendangkalan dan penyempitan sungai Wonokerto. Banyaknya tanaman enceng gondok serta bangunan liar yang ada di sepanjang sungai tersebut memperparah banjir ketika permukaan laut naik dan hujan turun.
Ketua RT 18 RW 03 Desa Wonokerto Kulon, Suntoro mengungkapkan banjir yang terjadi sepanjang tahun di Desa Wonokerto Kulon dan Wetan bukan hanya terjadi karena adanya rob dan hujan. Namun lebih dikarenakan luapan air sungai Wonokerto ke pemukiman warga.

Menurutnya pendangkalan dan penyempitan sungai Wonokerto adalah penyebab air meluap ke kedua desa tersebut. ”Sudah lebih dari 8 tahun Sungai Wonokerto tidak pernah dikeruk sehingga tanaman enceng gondok tumbuh subur mulai dari Desa Mayangan Kecamatan Wiradesa, hingga Desa Wonokerto telah terjadi pendangkalan, hujan sedikit pasti banjir, apalagi naiknya air laut,” ungkap Suntoro.

Suntoro juga menyesalkan, sikap beberapa warga di Desa Mayangan, Kelurahan Kepatihan dan Desa Bebel yang mendirikan bangunan di atas sungai Wonokerto sehingga mempersempit arus sungai Wonokerto.

Menurutnya perlu adanya tindakan tegas dari Pemda, khususnya Dinas Pengairan Sumber Daya Air (PSDA) untuk menertibkan bangunan liar tersebut. ”Aliran sungai Wonokerto mulai tersumbat di Desa Mrican, kemudian menyempit di Desa Mayangan, akhirnya semua air menumpuk di Desa Wonokerto. Maka tidak heran kalau Wonokerto dan beberapa desa lainnya, terjadi banjir sepanjang tahun, jalan keluarnya sungai harus dikeruk,” lanjutnya sambil menunjukan denah aliran sungai yang sebenarnya.

Kepala Dukuh Pemukiman Nelayan Wonokerto, Moh Amin, menyesalkan ketidaktegasan Pemkab Pekalongan, terhadap warga yang mendirikan bangunan liar di atas bantaran sungai Wonokerto, sehingga arus air yang mengalir di sepanjang Desa Mrican, Desa Mayangan hingga Desa Wonokerto,tidak lancar. ”Dengan adanya bangunan liar tersebut, kita warga yang di ujung sungai Wonokerto, terkena dampaknya, banjir sepanjang tahun,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pengairan Sumber Daya Air (PSDA), Kabupaten Pekalongan, Bambang Pramukanto menegaskan pihakya sudah membuat laporan kepada Dinas PSDA Jawa Tengah tentang normalisasi sungai Wonokerto tersebut, namun belum sepenuhnya dipenuhi
Menurutnya normalisasi sungai dari Desa Mrican, hingga Desa Wonokerto sudah dilakukan dan dikerjakan pada tahun 2014 ini. Namun cepatnya pertumbuhan dan banyaknya sampah rumah tangga di sepanjang sungai membuat pendangkalan kembali terjadi.

”Normalisasi sungai Wonokerto baru saja dikerjakan tahun 2014 kemarin, pendangkalan lebih disebabkan sampah rumah tangga warga serta adanya tanaman enceng gondok. Warga seharusnya ikut menjaga kebersihan sungai dengan tidak membuang sampah sembarangan,” tegasnya. (thd/ric)

- Advertisement -
- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -