Razia, Puluhan PL Kabur

767
NEKAT BUKA : Tim Gabungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Satpol PP, Polres Batang dan TNI merazia tempat hiburan karaoke dan panti pijat yang tetap buka pada bulan suci Ramadan, kemarin. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)
NEKAT BUKA : Tim Gabungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Satpol PP, Polres Batang dan TNI merazia tempat hiburan karaoke dan panti pijat yang tetap buka pada bulan suci Ramadan, kemarin. (Taufik hidayat/jawa pos radar semarang)

BATANG- Puluhan Pemandu Lagu (PL), pengunjung dan karyawan karaoke yang berada di sepanjang pantura, Kecamatan Gringsing, Kabupaten Batang, Kamis (9/7) kabur ke tengah sawah dan masuk ke perkampungan warga. Mereka melarikan diri saat tim gabungan dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Satpol PP, Polri dan TNI melakukan operasi pekat di sejumlah tempat hiburan.

Adanya surat edaran dari Bupati Batang, Yoyok Rio Sudibyo, terkait larangan dibukanya tempat hiburan seperti karaoke selama bulan suci Ramadan ternyata tidak digubris oleh pemilih usaha tersebut. Mereka tetap buka seperti biasa dari siang hingga malam hari.

Tim gabungan dari juga menemukan puluhan botol miras kosong yang baru dibuka dan dikonsumsi pengunjung pada karaoke di Desa/Kecamatan Gringsing, yang ditinggal oleh petugas dan PL, karena takut ditahan Satpol PP. Setelah PL dan petugas dikejar, akhirnya empat orang PL dimintai keterangan oleh Satpol PP.

Maya, 32, PL karaoke, warga Desa Kaibahan, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, mengaku bahwa dibukanya karaoke pada siang hari, karena pemilik tidak tahu kalau ada larangan beroperasi.

Menurutnya meski bulan suci Ramadan, pengunjung karaoke tetap ramai. Bahkan seminggu terakhir jumlah pengunjung meningkat, khususnya dari luar kota. “Kami tidak tahu kalau bulan puasa karaoke dilarang buka, karena pemilik karaoke tetap memerintahkan untuk dibuka seperti hari biasa,” ungkap Maya.

Demikian juga panti pijat yang digunakan untuk mesum, tetap dibuka seperti hari biasa. Bahkan untuk panti pijat mereka buka lebih awal sejak pagi, dengan dalih banyak pelanggan khususnya sopir yang telah datang menunggu. “Saya hanya mijat sopir Bu, tidak menerima yang begituan,” kata Sarah, 27, warga Desa Bulu, Kecamatan Banyuputih, Batang.

Sementara itu, Kepala Bidang Pengembangan SDM dan Pemasaran, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Kabupaten Batang, Endah Karunia menegaskan bahwa pada sidak kali ini, banyak temuan tempat hiburan karaoke dan panti pijat yang dibuka seperti biasa.

Menurutnya sebagian besar pemilik usaha hiburan mengaku tidak tahu kalau ada surat edaran larangan beroperasional. Padahal para pengusaha dan pengelola tempat hiburan saat diundang ke kantor Dinas Kebudayaan Pariwisata sudah sepakat untuk tidak membuka usahanya pada siang hari.

“ Kami akan menindak tegas pada pemilik usaha hiburan yang tetap buka siang hari, sesuai dengan aturan Perda yang ditetapkan, dan jika membandel akan kita cabut izin usahanya,” tegasnya. (thd/ric)