Saksi Tak Buat Kuitansi Pinjam LCD

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

KETERANGAN SAKSI: Dra Harini Krisniati menjalani sidang dengan agenda pemeriksaan saksi di Pengadilan Tipikor Semarang, Kamis (9/7) kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KETERANGAN SAKSI: Dra Harini Krisniati menjalani sidang dengan agenda pemeriksaan saksi di Pengadilan Tipikor Semarang, Kamis (9/7) kemarin. (JOKO SUSANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

MANYARAN – Pembuatan kuitansi fiktif peminjaman LCD (Liquid Crystal Display) proyektor, terungkap dalam sidang pemeriksaan saksi atas kasus dugaan korupsi penyelenggaraan Semarang Pesona Asia (SPA) tahun 2007 di Pengadilan Tipikor Semarang, Kamis (9/7) kemarin.

Dalam sidang dengan terdakwa mantan staf ahli Wali Kota Semarang, Dra Harini Krisniati ini menghadirkan saksi Mamiarti, Direktur CV Eddy Putra dan saksi sebelumnya Daya Danieswara, karyawan Hotel Patrajasa, Semarang.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejari Semarang, Dadang Suryawan mengatakan saksi Mamiarti dihadirkan atas kaitannya dengan penyewaan LCD proyektor untuk kegiatan rangkaian SPA. Sementara untuk Daya Danieswara, lanjut Dadang, dihadirkan kembali untuk menunjukkan bukti grosir tempat penyimpanan kuitansi Hotel Patrajasa di depan persidangan.

”Seharusnya masih ada dua saksi lagi, tapi tidak datang di persidangan. Keduanya adalah dari Toko Batik Semarang dan Riko Rent Car (persewaan mobil). Sidang minggu depan akan dipanggil lagi,” kata Dadang yang juga Ketua Tim Penyidik Kasus SPA.

Dalam kesaksiannya, Mamiarti mengaku bahwa pihaknya pernah menerima pesanan spanduk, namun untuk penyewaan LCD tidak pernah ada. Ia juga mengaku adanya pemberian nota kosong yang sudah distempel dan tanda tangan.

”Kami memang pernah menerima pembuatan spanduk tapi bukan untuk kegiatan SPA. Selain itu, ada juga yang minta kuitansi kosong. Seingat saya bapak-bapak yang minta. Kuitansinya memang saya tanda tangani dan stempel, karena waktu itu yang minta mau ngisi sendiri sesuai jumlah pemesanan spanduknya,” ungkap Mamiarti di hadapan majelis hakim yang dipimpin Gatot Susanto.

Saksi Mamiarti juga mengaku heran, ketika dirinya diperiksa kejaksaan. Sebab ia tidak permasalahkan tersebut. Apalagi perusahaannya disebutkan membuat kuitansi penyewaan 8 unit LCD dengan biaya Rp 3.800.000.

”Saya tidak pernah menyewakan LCD, kami cuma usaha pembuatan spanduk. Lagian, dulu pas pesan spanduk biayanya cuma Rp 200 ribu, bukan Rp 3 jutaan. Saya juga heran kenapa kode kuitansinya SU, padahal kami kodenya EP. Jadi yang nulis bukan saya itu,” kata Mamiarti.

Saksi Mamiarti juga mengakui tidak mengenal terdakwa Harini. Mamiarti menyebutkan bahwa pengeluaran kuitansi kosong diakuinya tidak boleh. ”Saya tidak akan memberikan sembarangan lagi yang mulia. Waktu itu cuma 1 saja kuitansi yang diminta. Saya lupa, yang pesan apakah pakai baju dinas atau tidak, karena kejadiannya sudah lama tahun 2007 lalu,” ujarnya.

Sementara itu, terdakwa Harini mengatakan bahwa dirinya tidak mengenal dan tidak mengetahui para saksi yang dihadirkan. ”Kami mayoritas tidak kenal dengan saksi yang mulia,” kata Harini singkat.

Atas kesaksian tersebut, Hakim Gatot Susanto langsung menasihati saksi Mamiarti, agar jangan sekali-kali memberikan kuitansi kosong lagi. ”Hari ini diambil hikmahnya ya. Biasanya niat baik belum tentu hasilnya baik,” kata Hakim Gatot.

Majelis hakim juga menunda sidang pada Senin 27 Juli dan Kamis 30 Juli 2015 dengan agenda keterangan saksi. ”Hari ini, saksi hadir cuma 2. Jadi mohon jaksa memanggil lagi yang batal hadir,” sebutnya.

Seperti diketahui, mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, Pemberdayaan BUMD, dan Aset Daerah (BKPM-PB dan A) Kota Semarang dijadikan tersangka oleh Kejari Semarang sejak 6 Januari silam dan ditahan pada 29 April. Setelah sebelumnya sempat tertunda karena yang bersangkutan dirawat akibat sakit di dua rumah sakit.

Selain itu, diketahui gugatan praperadilan yang diajukan kuasa hukum, Harini Krisniati di Pengadilan Negeri (PN) Semarang dinyatakan gugur karena berkas perkaranya telah dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Semarang terlebih dahulu. (jks/ida/ce1)

Berita sebelumyaBertekat Membangun Semarang Hebat
Berita berikutnyaEnjoy Jadi Model
- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -