Sedih Harus Lebaran Jauh dari Keluarga

572
HARU: Raeni didampingi Kepala Disdik Kendal, Muryono berpamitan dengan orang kedua orang tuanya untuk berangkat ke Inggris, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)
HARU: Raeni didampingi Kepala Disdik Kendal, Muryono berpamitan dengan orang kedua orang tuanya untuk berangkat ke Inggris, kemarin. (BUDI SETYAWAN/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Penantian Raeni untuk bisa melanjutkan S2 di luar negeri, akhirnya terwujud. Jumat (10/7) kemarin, mahasiswi lulusan terbaik Universitas Negeri Semarang (Unnes) Semarang itu berpamitan dengan kedua orang tuanya untuk bertolak ke London, Inggris.

BUDI SETYAWAN, Radar Semarang

Siang kemarin, Raeni nampak sibuk mempersiapkan pakaian dan segala kebutuhannya di berangkat ke Inggris. Yakni untuk melanjutkan studi magister (S2) di University of Birmingham di West Midlands, United Kingdom (UK).

Di rumahnya di kelurahan Langenharjo, mahasiswa berprestasi peraih beasiswa dari Presiden RI itu nampak gembira bercampur sedih. Ibu, bapak, sanak famili tak mampu menahan air mata saat Raeni berpamitan. Raeni pergi dengan diantar oleh Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kendal.

Raeni mengaku keberangkatan ke luar negeri ini merupakan kali pertama. Dan ia harus terpisah dari keluarga terutama ibu dan bapaknya untuk waktu lebih kurang 1,5 tahun ke depan. “Jadi ini adalah lebaran pertama saya tanpa keluarga. Sebab, lebaran nanti saya sudah berada di Inggris,” katanya sembari bercucuran air mata.

Perjuangannya untuk kuliah di University of Birmingham telah ia lakukan sejak sembilan bulan lalu, mulai dari mengikuti semua tes maupun melengkapi persyaratannya. “Satu sisi lega, akhirnya cita-cita saya untuk kuliah diluar negeri secara gratis tercapai. Tapi saya juga sedih karena harus meninggalkan keluarga,” akunya.

Satu koper besar berisi pakaian dan satu tas punggung disiapkan mahasiswa peraih IPK 3,96 itu. Putri dari Mugiyono itu, mengaku sudah mempersiapkan segala keperluannya selama tinggal diluar negeri jauh-jauh hari. Mulai dari mental karena akan berada jauh dari orangtua dan hidup sendiri di negeri orang. “Persiapan lain adalah fisik karena cuaca dan iklim di Inggris berbeda dengan di Indonesia sehingga memerlukan penyesuaian agar tidak mudah sakit. Jadi saya juga sudah beli pakaian tebal untuk musim dingin disana nanti,” imbuhnya.

Ayah Raeni, Mugiyono berpesan kepada anaknya agar tekun belajar dan tidak menyia-nyiakan kesempatan yang berharga ini. “Saya sedih karena akan ditinggal anak saya. Tapi saya ikhlas, karena ini demi masa depannya dan tujuan untuk menuntut ilmu,” katanya.

Ia berpesan agar Raeni tidak lupa sholat, mengaji dan selalu berdoa. Sebab menurutnya, sepintar-pintarnya seseorang jika tidak disertai dengan iman dan takwa akan sia-sia karena ilmunya tidak akan bermanfaat. “Biar barokah, harus rajin berdoa kepada Allah,” imbuhnya.

Sebagai orang tua, Mugiyono mengaku tidak bisa memberikan bekal apapun kepada Raeni. Termasuk membelikan baju atau memberikan uang saku untuk keberangkatannya ke Inggris. Sebab Mugiyono mengaku tidak memiliki apapun kecuali becak yang ia gunakan untuk mengais rejeki sehari-hari.

Kepala Disdik Kendal Muryono meminta Raeni bisa survive di Inggris, Tidak hanya terbaik di Indonesia, tapi juga harus menjadi terbaik di Inggris nantinya. Sehingga bisa mengharumkan nama Kendal di Dunia. “Semoga adanya Raeni ini bisa menginspirasi para siswa di Kendal, bahwa tidak harus kaya untuk menikmati pendidikan yang tinggi. Tapi bisa ditunjukkan dengan prestasi agar bisa mendapatkan beasiswa,” katanya. (*/fth)