Sempat Diprotes Anak, 5 Lebaran Tak Pulang Kampung

1782
TETAP TEGAR: Iptu Putri Nur Kholifah tetap menjalankan tugas, meski merindukan suasana Lebaran di kampung halamannya di Bogor Jawa Barat. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TETAP TEGAR: Iptu Putri Nur Kholifah tetap menjalankan tugas, meski merindukan suasana Lebaran di kampung halamannya di Bogor Jawa Barat. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TETAP TEGAR: Iptu Putri Nur Kholifah tetap menjalankan tugas, meski merindukan suasana Lebaran di kampung halamannya di Bogor Jawa Barat. (ABDUL MUGHIS/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Kala gema takbir berkumandang, Iptu Putri harus rela merayakan Lebaran di jalanan demi tugas sebagai abdi negara. Bahkan sudah lima kali Lebaran ini, ia tidak bisa pulang mudik ke kampung halaman. Seperti apa?

ABDUL MUGHIS

MUDIK Lebaran di kampung halaman, selalu menjadi momen yang paling ditunggu banyak orang. Bertemu dengan orang tua, anak, istri, suami, sanak saudara, dan teman sepermainan adalah kebahagian yang tak terhingga.

Namun bagi sebagian besar anggota kepolisian, momen Lebaran justru dihabiskan di tepi jalan untuk melakukan tugas pengamanan. Para anggota polisi hanya bisa menyaksikan lalu-lalang orang mudik menuju kampung halaman.

Iptu Putri Nur Kholifah adalah salah satu polisi wanita (Polwan) yang mengalami hal itu. Lebaran kali ini dipastikan tidak bisa pulang mudik di kampung halamannya di Bogor Jawa Barat. Ia mengaku sedih ketika mendengar takbir bersaut-sautan di speaker masjid di malam Hari Raya Idul Fitri.

Saat itu, ingatannya terbawa pada suasana di kampung halaman. Sedangkan Putri sadar, bahwa posisinya berdiri dengan mengenakan pakaian dinas kepolisian itu jauh dari tanah kelahiran adalah tugas mulia.

”Sudah lima kali Lebaran (Hari Raya Idul Fitri, Red) sejak 2011 hingga 2015, saya tidak bisa pulang kampung karena masih menjalankan tugas,” kata Putri saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di Pos Pengamanan (Pospam) Operasi Ketupat Candi 2015 Simpang Lima Semarang, kemarin.

Diakui Putri, perasaan sedih lantaran tidak bisa pulang ke kampung halaman saat Lebaran itu sangat manusiawi. Namun demikian, hal itu harus bisa diterima demi menjalankan tugas mulia yakni menjaga keamanan masyarakat banyak. ”Selama bertugas, kami di Pos Pelayanan (Posyan) Operasi Ketupat Candi melayani 24 jam,” ujar Polwan lulusan Akpol 2010 ini.

Sejak mendapatkan penugasan pertama di Satlantas Dityasa Polda Banten, ia telah lima kali ini tidak bisa menikmati Hari Raya Idul Fitri bersama keluarga. ”Lebaran tetap bertugas, tidak ada mudik. Kadang merasa sedih karena enggak bisa kumpul sama keluarga. Tapi ini sudah menjadi risiko atas pilihan saya menjadi Polwan,” kata wanita yang saat ini menjabat sebagai Panit Registrasi dan Identifikasi (Regident) Satlantas Polrestabes Semarang ini.

Atas hal tersebut, wanita kelahiran 8 Desember 1989 ini mengaku sempat diprotes oleh anak-anaknya tercinta. Ia pun menjelaskan dan memberikan pemahaman terhadap anak-anak.

”Ya menjelaskan, memberikan pemahaman karena ibunya masih menjalankan tugas. Bagaimanapun juga, harus semangat dan diterima dengan ikhlas. Ini kan tugas. Dinikmati saja,” ujar ibu dua anak yang saat ini tinggal di Sambiroto Kedungmundu Tembalang Semarang.

Dikatakan dia, Operasi Ketupat Candi 2015 berlangsung selama 16 hari hingga 25 Juli mendatang. ”Nanti setelah operasi ketupat selesai atau yang lain masuk, kami dapat libur 3 hari. Anak-anak sudah menagih jalan-jalan sebagai gantinya. Biasanya rekreasi ke Taman Safari,” imbuh Polwan yang hobi membaca itu.

Untuk menghilangkan penat saat bertugas, Putri menyempatkan diri menelepon anak-anak dan keluarga. ”Kadang berbagi cerita sama teman sesama polisi. Di sela-sela istirahat dari tugas, refreshing dengan mendengarkan musik,” ujar penyuka Cinta Terbaik lagunya Cassandra Band ini.

Sederet pengalaman selama bertugas telah dia dapatkan. Mulai dari yang menyenangkan hingga menyebalkan. ”Paling berkesan adalah saat bertugas Lebaran di Pelabuhan Merak. Nyaris tak bisa istirahat karena harus mengurai kemacetan arus mudik seharian penuh. 10 kilometer lebih macet total,” katanya.

Di Semarang terbilang sangat kondusif. Namun tetap harus waspada kemacetan. Mengingat Kota Semarang merupakan jalur arus yang dilintasi pemudik dari arah Jakarta- Surabaya. Volume kendaraan juga heterogen. ”Simpang Lima sendiri sebagai jantung kota sangat rawan macet. Jika macet, imbasnya ke mana-mana,” katanya. (*/ida/ce1)