Beragama Overdosis

447

hikmah iniWEB

Oleh: Dr H Musahadi, MAg
Koordinator Devisi Teaching Walisongo Mediation Center (WMC) UIN Walisongo

OVERDOSIS adalah istilah yang lumrah digunakan dalam dunia kedokteran untuk menyebut penggunaan obat secara berlebihan. Banyak kasus, karena ingin cepat sembuh, seseorang yang sedang sakit kemudian mengonsumsi obat secara berlebihan. Lalu apa hubungannya dengan agama? Agama adalah tuntunan hidup dari Zat Yang Maha Hidup dan Menghidupkan. Ia merupakan formula yang bisa menyehatkan kehidupan manusia secara lahir dan batin sepanjang digunakan sesuai dengan kadar dan ukurannya. Beragama sehat adalah sebuah keharusan bagi orang beriman untuk mencapai sa’adah fid-dunya wal akhirah (bahagia dunia akhirat), namun jika overdosis, tujuan beragama itu bisa tidak terwujud. Jika ini yang terjadi, alih-alih mendatangkan kemaslahatan dan kebahagiaan hidup, beragama justru melahirkan kemafsadatan dan kesengsaraan.

Pertanyaannya adalah, memang ada orang beragama secara overdosis? Jawabannya ada. Ekstremisme dalam beragama merupakan fenomena overdosis dalam beragama. Marilah kita simak hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik berikut ini: ”Anas bin Malik menceritakan bahwa ada tiga orang sahabat berkunjung ke rumah istri Rasulullah untuk bertanya tentang ibadah beliau. Tatkala mereka mendapat penjelasan, masing-masing mengambil kesimpulan dan mengatakan: bagaimana kita ini dibanding dengan Rasul SAW yang sudah dijamin mendapat ampunan Allah baik yang telah berlalu maupun yang mendatang. Maka di antara mereka ada yang berjanji: Saya mau salat malam selamanya.
Yang kedua mengatakan saya akan puasa tiap hari sepanjang tahun. Yang lainnya lagi mengatakan: Saya tidak akan menikah dan akan menjauhi wanita. Tidak lama kemudian Rasul SAW tiba dan bersabda: Kalian mengatakan begini dan begitu. Demi Allah akulah yang paling takut pada Allah dan paling takwa pada-Nya. Namun ingat, aku puasa, tapi juga berbuka, aku salat, tapi juga tidur, dan aku juga menikah dengan beberapa wanita. Barangsiapa yang tidak menyenangi sunnahku maka bukan golonganku” (Hadis Riwayat al-Bukhari).

Secara gamblang hadis yang bisa diakses melalui Tanwir al-Hawalik Syarh al-Muwatta’ Malik Juz I:273 tersebut memberi ilustrasi mengenai niat tiga sahabat yang hendak menerapkan beragama secara overdosis. Ada yang mau salat malam sepanjang malam terus-terusan, ada yang mau puasa sepanjang hari terus-terusan, bahkan ada yang mau menarik diri dari kenikmatan duniawi berupa hubungan seksual dengan lawan jenis. Mereka beranggapan dengan beragama model itu, akan menempatkan mereka pada level tertinggi dari ketundukan dan ketakwaannya pada Allah SWT. Tetapi, Rasulullah spontan mengoreksinya dengan menegaskan bahwa ukuran dan standar ketundukan dan ketakwaan tertinggi pada Allah SWT adalah diri Rasul. Jika ada yang melebihi standar itu justru dilarang oleh Rasul karena hal itu overdosis.

Mengapa beragama secara overdosis dilarang oleh Rasul? Tentu karena model beragama seperti itu akan mencederai prinsip keseimbangan dalam hidup. Keseimbangan akan terwujud apabila manusia berlaku adil dengan memenuhi hak Allah serta memberikan hak diri sendiri, hak keluarga, dan hak masyarakat secara proporsional. Tidak berat sebelah. Ada saatnya kita khusyuk bersimpuh, bertafakur dan munajat kepada Allah, tetapi ada saatnya kita juga harus memberi perhatian dan tenggelam dalam asyiknya bercengkerama dengan anak dan isteri. Ada kalanya kita harus mengurus ini dan itu untuk menjamin tetap tegaknya kehidupan sosial di sekeliling kita.

Islam adalah agama yang sepenuhnya bersifat human, wajar dan manusiawi. Itulah sebabnya, Allah SWT mengutus seorang Rasul dari jenis kita sendiri, Rasul dari jenis manusia. Bukan Rasul dari jenis malaikat. Tentu ini dimaksudkan agar sebagai agama, Islam bisa dilaksanakan oleh manusia, dalam ukuran sewajarnya manusia. Islam bukan agama yang hanya bisa dilaksanakan oleh manusia-manusia luar biasa, atau para superman. Islam juga bisa dipraktikkan oleh rektor, dekan, dosen, karyawan dan mahasiswa. Demikian pula kiai, ustad dan santri. Dari konsultan, manajer, direktur, kondektur hingga tukang bubur dan tukang sayur.

Barangkali yang harus selalu diingat adalah, beragamalah secara berkeseimbangan, proporsional, dan tidak berat sebelah. Hindari ekstremitas dalam beragama. Jangan overdosis, karena akan merusak prinsip keseimbangan dan proporsionalitas dalam hidup. Untuk mewujudkan prinsip keseimbangan dalam beragama diperlukan prasyarat ”kecerdasan” dalam memahami aturan-aturan Tuhan. Pada titik ini, tak bisa dimungkiri bahwa beragama yang baik membutuhkan pengetahuan dan perangkat keilmuan yang memadai. Beragama dengan hanya bermodal semangat saja tanpa diimbangi pengetahuan yang baik, sangat mudah terjebak pada ekstremitas dan overdosis. (*/zal/ce1)