565 Hektare Tanaman Padi Puso

378

DEMAK – Para petani di Demak mengeluhkan cuaca kemarau ekstrim yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir. Sebab, kondisi seperti itu berdampak pada tanaman padi milik petani di wilayah Demak. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian (Dispertan) Pemkab Demak, tercatat setidaknya ada sekitar 565 hektare tanaman padi mengalami puso akibat dampak kemarau tersebut. Kemudian, 418 hektare rusak berat, 790 hektare rusak sedang dan 1.274 rusak ringan. Total kekeringan mencapai luasan 3.047 hektare.

Semula yang terancam mencapai 4.365 hektare. Karena itu, sekitar 1000 hektare lebih yang dapat ditangani atau diselamatkan dengan pompanisasi air. Kepala Dispertan, Ir Wibowo mengatakan, kerusakan tanaman tersebar di tujuh kecamatan. Yaitu, Kecamatan Demak Kota, Wonosalam, Bonang, Karangtengah, Mranggen, Sayung, dan Kecamatan Guntur.

“Kerusakan tanaman paling banyak di Kecamatan Guntur, yaitu ada 265 hektare, di wilayah Kecamatan Karangtengah ada 165 hektare serta di Kecamatan Wonosalam tercatat ada 104 hektare,”katanya, kemarin.

Wibowo menambahkan, tanaman padi yang rusak berusia antara 50 hari hingga 80 hari. Menurutnya, pada tahun-tahun sebelumnya tidak separah sekarang. “Saat ini kemaraunya betul-betul ekstrim sehingga petani banyak mengalami kerugian dengan jumlah masih dalam proses penghitungan. Kerugian bervariasi sesuai dengan usia tanaman,” imbuhnya.

Tahun 2015 ini petani memang sedang mengalami kesulitan untuk bertanam, dikarenakan musim kemarau panjang. Meski begitu, pihaknya tetap optimis target produksi padi dapat tercapai. Pada musim tanam (MTI) produksi padi cukup tinggi yakni 79 kuintal perhektare dari target semula 67 kuintal perhektare. Di wilayah Demak sendiri ada 51.558 hektare lahan pertanian produktif. Sedangkan, pada MT II yang terkena kekeringan juga masih diatas target tersebut.

Sekarang ini, sawah tadah hujan di Kecamatan Mranggen masih bisa memproduksi padi 70 kuintal perhektare. Namun, daerah yang belum memasuki musim panen seperti Kecamatan Mijen dan Wedung masih ada sekitar 3 ribu hektare. “Petani setempat meminta ada toleransi aliran Waduk Kedungombo diundur hingga akhir Juli dari semula penutupan 15 Juli. Sedangkan, penggelontoran air dilakukan lagi pada 1 September mendatang. Karena itu, kita tetap optimis target tetap tercapai,” tambahnya. (hib/fth)