Kemarau Panjang, Petani Gagal Panen

457
BAJAK SAWAH : Petani di Kabupaten Semarang masih beruntung karena bisa membajak sawah dengan adanya ketersediaan air. Sejumlah lahan pertanian di Jateng saat ini kekeringan akibat kemarau berkepanjangan. (Ricky fitriyanto/jawa pos radar semarang)
BAJAK SAWAH : Petani di Kabupaten Semarang masih beruntung karena bisa membajak sawah dengan adanya ketersediaan air. Sejumlah lahan pertanian di Jateng saat ini kekeringan akibat kemarau berkepanjangan. (Ricky fitriyanto/jawa pos radar semarang)

SEMARANG – Musim kemarau yang panjang memberikan dampak negatif bagi sejumlah petani. Cukup beralasan, karena saat ini tengah masuk pada Musim Tanam (MT) II. Alhasil, karena tidak ada air, banyak petani yang mengalami puso atau gagal panen. Padahal usia tanaman padi sudah memasuki masa panen.

Anggota Komisi B DPRD Jateng, Achsin Ma’ruf menyayangkan nasib pahit yang dialami petani setiap tahun. Ketika musim kemarau, banyak yang gagal panen, karena tanaman kekurangan air. ”Kondisi ini terjadi terus-menerus, mestinya ada terobosan dari pemerintah untuk mengatasinya,” katanya.

Ia menambahkan, petani membutuhkan irigasi air yang besar dan banyak. Pasalnya, selama ini irigasi di Jateng masih minim dan belum bisa menjangkau seluruh sawah petani. ”Jika irigasi banyak dan air melimpah, musim kemarau pun petani bisa tenang,” imbuhnya.

Achsin menambahkan, realisasi target tahun ini mencapai 12,6 juta ton atau naik 2 juta ton dari tahun 2014 yakni 10,6 juta. Tapi sayang, pada 2014 produksi gabah kering giling (GKG) provinsi ini menurun hingga sekitar 696.712 ton atau 6,73 persen. Jika dibandingkan tahun 2013 mencapai 10,34 juta ton maka tahun 2014 mencapai 9,65 juta ton. ”Petani juga harus diberikan pemahaman bagaimana cara menanam yang baik, agar bisa mengantisipasi tidak puso,” tambahnya.

Kondisi ini semakin diperparah dengan mulai mengeringnya lima waduk di Jateng per akhir Juni. Yakni Waduk Brambang, Blimbing dan Botok yang ada di Sragen dan Waduk Gunungrowo, Pati dan Waduk Sanggeh, Grobogan. Selain itu, debit air di 10-15 waduk lainnya diperkirakan akan habis pada bulan Agustus mendatang. ”Waduk Gunungrowo mengalami kebocoran beberapa bulan lalu sehingga airnya mengering,” kata Kepala Dinas PSDA Jateng Prasetyo Budhi Yuwono.

Ia memastikan belum ada lahan pertanian waduk yang terganggu. Tapi diperkirakan beberapa bulan bakal ada 10-15 waduk ukuran kecil yang akan kering mulai bulan Juli hingga Agustus nanti. (fth/ric/ce1)