Kurang Terawat, Linggoasri Disoal

594
KOSONG : Warga kecewa saat melihat kandang hewan di Linggoasri, karena banyak yang kosong tanpa penghuni. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
KOSONG : Warga kecewa saat melihat kandang hewan di Linggoasri, karena banyak yang kosong tanpa penghuni. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN-Ratusan pengunjung menikmati libur Lebaran hari raya Idul Fitri 1436 H di Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, banyak yang kecewa. Pasalnya, kebun binatang yang dijadikan andalan wisata, menyuguhkan banyak kandang yang kosong.

Sedangkan kondisi binatangnya sangat memperihatinkan, kurus dan kurang terawatt. Termasuk dua ekor gajah yang menjadi ikon objek wisata Linggoasri, terlihat kurang sehat. Padahal anggaran pemeliharaan hewan gajah cukup besar.

Sukamdani, 48, warga Desa Kaibahan RT 02, Kecamatan Kesesi, Kabupaten Pekalongan, yang datang bersama keluarganya mengungkapkan bahwa sebagian besar hewan yang ada di kebun binatang Linggoasri, tidak menarik. Saat ini, hanya dihuni oleh burung dan kera.

“Pengelola seharusnya mendatangkan hewan lain, seperti kijang dan rusa yang dipelihara. Bahkan lebih jinak dengan pengujung. Atau hewan lain yang bisa dijadikan ikon dari sebuah kebun binatang. Tapi di sini, hewannya hanya burung dan kera, kandangnya banyak yang kosong,” ungkap Sukamdani.

Hal senada dikatakan oleh Ahmad Rozikin, 32, warga Desa Gandarum RT 11 Kecamatan Kajen. Bahkan Ahmad menyesalkan kondisi gajah yang kurus seolah tak terurus, namun tetap disuruh bekerja dengan membawa penumpang keliling lokasi wisata.

“Kalau gajah dijadikan ikon Linggoasri, kondisinya harus bersih dan sehat, bukan sebaliknya. Padahal, Linggoasri kalau tidak ada gajah, sudah tidak ada daya tariknya,” ujar Rozikin.

Sedangkan Kepala UPT Objek Wisata Linggoasri, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga, Kabupaten Pekalongan, Dwi Prayitno, menjelaskan bahwa tidak terawatnya kondisi hewan di kebun binatang Linggoasri, karena minimnya anggaran dan pemasukan. Terkait pengunjung wisata, hanya ramai pada saat Syawalan dan tahun baru saja. ”Selebihnya hanya 100 orang per hari, dengan tiket masuk Rp 5 ribu,” jelas Dwi Prayitno.

Ditegaskan Dwi, minimnya fasilitas dan terbatasnya anggaran, menyebabkan beberapa hewan mati, terutama burung dan kera. ”Anggaran untuk pemeliharaan hewan sangat kecil. Bahkan, tidak mencukupi untuk operasional hewan,” tandas Dwi. (thd/ida)