Sedimentasi Tinggi, Dikepung Tanah Timbul

442
SEDIMENTASI: Alur pelabuhan Morodemak Kecamatan Bonang sudah sulit dilalui perahu dan kapal nelayan akibat gangguan sedimentasi lumpur yang sangat tinggi. (Wahib pribadi/jawa pos radar semarang)
SEDIMENTASI: Alur pelabuhan Morodemak Kecamatan Bonang sudah sulit dilalui perahu dan kapal nelayan akibat gangguan sedimentasi lumpur yang sangat tinggi. (Wahib pribadi/jawa pos radar semarang)

DEMAK – Keberadaan pelabuhan nelayan di Desa Morodemak, Kecamatan Bonang selama ini menjadi urat nadi kegiatan ekonomi kaum nelayan pesisir pantai tersebut. Sayang, seiring dengan makin padatnya aktivitas nelayan dengan banyaknya perahu dan kapal pencari ikan justru tidak diimbangi dengan pengoptimalan fungsi pelabuhan tersebut. Salah satu masalah klasik adalah tingginya sedimentasi lumpur di alur keluar masuk kapal nelayan di Pelabuhan Morodemak tersebut.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Pemkab Demak, Hari Adi Susilo mengungkapkan, kondisi pelabuhan Morodemak sudah kritis. Sebab, tumpukan lumpur makin mengganggu transportasi perahu dan kapal nelayan setempat. Akibat, terkena lumpur tersebut, banyak perahu yang kandas ditengah alur pelabuhan tersebut. “Idealnya pelabuhan dikembangkan atau dibuat disebelah utara lagi dari posisi pelabuhan yang sekarang. Ini karena pelabuhan yang saat ini ada sudah tidak normal,” katanya, kemarin.

Banyaknya lumpur yang menumpuk tersebut sebagai salah satu dampak abrasi yang berlangsung di wiayah pesisir Sayung dan Karangtengah. Dampak abrasi tersebut adalah munculnya tanah timbul (akresi) diwilayah lainnya. Ini terbukti dengan adanya lumpur akresi yang membentuk daratan sendiri di Pelabuhan Morodemak Bonang.

Tanam timbul juga terjadi di Desa Babalan, Kecamatan Wedung. “Jadi, memang harus ada penanganan secara berkelanjutan terkait Pelabuhan Morodemak Bonang ini. Kalau alur pelayaran nelayan itu bebas sedimentasi maka akan melancarkan ekonomi nelayan juga,” tambahnya. (hib/fth)