Warga Kembangkan Keripik Berbahan Pare

1011
SEIBUK: Pengrajin keripik Karangbolo, sedang mengolah sayur Bayam dan Pari menjadi keripik. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)
SEIBUK: Pengrajin keripik Karangbolo, sedang mengolah sayur Bayam dan Pari menjadi keripik. (PRISTYONO/RADAR SEMARANG)

UNGARAN – Banyaknya pesanan keripik membuat kesibukan warga Dusun Karangbolo, Desa Lerep, Ungaran Barat semakin bertambah. Dusun Karangbolo selama ini dikenal sebagai sentra pengrajin makanan ringan rempeyek dan keripik. Bahkan pengrajin mulai membuat produk unik berupa keripik Pare.

Saat masuk Dusun Karangbolo aroma keripik dari cerobong-cerobong dapur milik warga sangat menusuk hidung. Itu tandangan warga sedang memproduksi aneka keripik. Warga yang tinggal di dusun, rata-rata menjadi pengrajin makanan ringan jenis keripik, seperti tumpi, keripik pare, keripik rebon dan lainnya. “Awalnya hanya satu dua orang saja yang membuat keripik. Tapi karena banyak yang datang untuk membeli langsung di Karangbolo, akhirnya banyak warga mulai membuka usaha ini,” kata Kaptiah, 60, warga Dusun Karangbolo, Desa Lerep.

Setiap hari warga memproduksi panganan ringan tersebut. Biasanya selain dipasarkan di Kabupaten Semarang, juga banyak dipesan penjual makanan dari luar daerah. Tidak sedikit produk keripik Karangbolo dijadikan oleh-oleh warga Ungaran yang akan mudik ke kampung halaman saat Lebaran. “Biasanya ramdan dan seteleh lebaran, pesanan semakin banyak. Pesanan bisa meningkat 2-3 kali lipat di banding hari bisa. Kami sampai kualahan untuk pengadaan bahan baku dan juga tenaga produksi,” imbuhnya.

Awalnya warga Karangbolo hanya membuat rempeyek Tumpi, Kacang, keripik Tempe, Teri dan Rebon serta keripik Bayam. Gurih dan renyahnya rempeyak serta keripik Karangbolo, sudah tidak diragukan lagi oleh warga di kota Ungaran dan Kabupaten Semarang. Sehingga pesanan terus mengalir, sehingga warga Dusun mulai membuat rumah produksi keripik dan rempeyek. “Kami berusaha terus mengembangkan produk, agar pelanggan tidak bosan. Seperti Ramadan ini kami membuat keripik Pare. Pasti orang menyangkan, bakal pahit rasanya. Tapi setelah kami olah Pare tidak lagi pahit, menjadi renyah dan gurih,” tambahnya.

Pengrajin keripik lainnya Khoriah, 29, mengatakan, jumlah produksi rempeyek maupun keripik akan meningkat berkali lipat saat Ramadan. Kendati banyak permintaan namun, keuntungan tidak begitu besar. Sebab, ongkos produksi meningkat akibat harga bahan baku naik. “Kalau harga keripik dinaikan, pelanggan pada ngeluh. Padahal tepung, kacang tanah, minyak goreng, dan telur harganya naik. Jadi kami tetap menaikan harga keripik, tapi tidak begitu tinggi,” kata Khoriah. (tyo/fth)