Konsumsi Semen Turun 3,8 Persen

359
TAMBAH PRODUKSI: Meski saat ini penjualan semen secara nasional turun, namun PT Semen Indonesia tetap fokus pada ekspansi di antaranya dengan menyelesaikan pabrik di Indarung dan Rembang, yang diharapkan dapat beroperasi di awal tahun 2016. (ISMU PURUHITO/RADAR SEMARANG)
TAMBAH PRODUKSI: Meski saat ini penjualan semen secara nasional turun, namun PT Semen Indonesia tetap fokus pada ekspansi di antaranya dengan menyelesaikan pabrik di Indarung dan Rembang, yang diharapkan dapat beroperasi di awal tahun 2016. (ISMU PURUHITO/RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Kondisi ekonomi Tanah Air yang mengalami perlambatan, berdampak pada menurunnya konsumsi semen. Hingga Mei 2015 , konsumsi semen secara nasional turun 3,8 persen dibanding tahun lalu. Tahun lalu, konsumsi semen mencapai 35,7 juta ton, namun tahun ini hanya 22,9 juta ton.

Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia Tbk (PTSI) Agung Wiharto, di Semarang, kemarin mengungkapkan,hampir semua wilayah di Pulau Jawa mengalami penurunan rata-rata hampir empat persen. Tercatat, hanya Jawa Tengah dan Banten yang konsumsinya sedikit lebih baik, karena ada pembangunan infrastruktur jalan.

Menurut Agung, penyebabnya, penurunan konsumsi semen, akibat perlambatan ekonomi di Tanah Air, termasuk diantaranya dampak penggabungan kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Akibatnya, penyerapan anggaran kurang, sehingga berdampak pada pembangunan berbagai proyek infrastruktur, sampai spending 1,6 persen, padahal biasanya 8, 9 persen..

Selain perlambatan ekonomi, penyebab lainnya adalah lesunya ekonomi dunia. Ekspor komoditas ke Tiongkok, misalnya mengalami penurunan. Pengusaha kelapa sawit misalnya mengalami penundaan pembayaran 2-3 bulan. “Penjualan ritel semen banyak dipengaruhi komoditas. Perdagangan komoditas lesu, konsumsi semen praktis ikut mengalami penurunan,” tutur Agung.

Meski pada semester I kondisi pasr lesu, pihaknya optimistis pada semester II tahun ini, konsumsi semen akan kembali naik. “Kami yakin penurunan ini tak akan berlangsung lama, pasar akan kembali bergairah,” tegasnya.

Ditambahkan persaingan pasar akan semakin ketat dengan mulai beroperasinya sejumlah pabrik semen baru, baik asing maupun domestik di Tanah Air. Kendati persaingan makin ketat dan kompetitif, kami optismistis peluang dan potensi pasar kami di Tanah Air masih sangat menggembirakan,” tegasnya.

Menurutnya, itu terkait adanya bonus demografi hingga 2030, jumlah usia produktif akan berkembang hingga 2030. Itu artinya pasar akan terus bertumbuh.

Melihat potensi ini PT Semen Indonesia (Persero) Tbk akan semakin agresif dalam memperluas pasar bisnisnya dengan menambah pabrik baru. Persaingan tidak menghentikan Semen Indonesia untuk melakukan ekspansi. Apalagi, ke depan konsumsi semen dipastikan akan meningkat seiring pendapatan masyarakat. “Kita yakin, kondisi ekonomi yang menurun tidak akan berlangsung secara terus menerus. Apalagi, Indonesia memiliki Sumber Daya Manusia yang luar biasa, dengan didukung infrastruktur yang terus meningkat dan ketersediaan komoditas potensial yang berlimpah,” katanya.

Menurutnya, saat ini Semen Indonesia masih fokus pada ekspansi di Indarung dan Rembang, yang diharapkan dapat beroperasi di awal tahun 2016. Diharapkan dua pabrik baru tersebut mampu menambah kapasitas produksi hingga 6 juta ton dari 30 juta ton pada posisi saat ini. “Ekspansi pabrik baru di Indarung dan Rembang rencana tahun depan sudah operasional. Selanjutnya kami akan menyasar Sumatra, Kupang, Kalimantan dan Papua,” ungkapnya. (tya/smu)