Acara Belum Selesai, Ribuan Warga Berebut Sayuran

384
BEREBUT HASIL BUMI : Ribuan warga berebut gunungan hasil bumi sebelum acara Syawalan dimulai, di Objek Wisata Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jum’at (24/7) kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BEREBUT HASIL BUMI : Ribuan warga berebut gunungan hasil bumi sebelum acara Syawalan dimulai, di Objek Wisata Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Jum’at (24/7) kemarin. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN–Lantaran banyaknya sambutan atau pidato pada acara Syawalan di Objek Wisata Linggoasri, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, ribuan warga yang hadir tidak sabar hingga berebut gunungan, Jum’at (24/7) kemarin. Akibatnya, sebanyak 19 gunungan sayuran yang belum boleh diambil, ludes diserbu warga dalam waktu 10 menit.

Sedangkan gunungan megono setinggi 2 meter, lengkap dengan lauk pauknya yang selama ini menjadi rebutan warga pada acara Syawalan, justru tidak disentuh. Hanya satu dua warga saja yang mengambil nasi megono, itu pun tidak untuk dimakan.

Warga hanya mengambil nasi megono yang dibungkus, nasi yang ada pada gunungan megono diambil, tapi tidak dimakan. Mereka hanya menyimpan di tas plastik yang telah disiapkan untuk pakan ternak. Sedangkan gunungan sayuran diambil untuk dimakan, bahkan untuk dimasak di rumah.
Saekhu, 45, warga Desa Kaibahan, Kecamatan Kesesi, mengungkapkan bahwa sejak gunungan hasil bumi diarak dari Kantor Balai Desa Linggoasri hingga Lapangan Wana Bhakti, ratusan warga sudah mengincar gunungan hasil bumi yang akan direbut terlebih dahulu.

Menurutnya gunungan hasil bumi berupa sayuran tahun ini lebih bagus, jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Banyak buah seperti durian, mangga dan sayuran segar dalam jumlah melimpah. Demikian juga, jumlah warga yang ikut berebut tidak sebanyak tahun lalu. “Jadi gunungan yang sudah diincar warga, pasti paling banyak direbut,” ungkap Saekhu yang mendapatkan dua buah durian dari Gunungan Kecamatan Doro.

Saekhu juga mengatakan lamanya acara berupa sambutan pejabat, membuat warga bosan dan kecewa. Padahal warga sudah menunggu sejak pagi dan belum sarapan, sedangkan gunungan megono tidak mungkin untuk dimakan warga. Menurutnya lebih baik nasi megono beserta lauknya dibungkus dan dibuat gunungan yang besar, dari pada dibuat gunungan untuk diperebutkan. “Buat apa berebut gunungan megono, karena nasinya tidak mungkin dimakan. Lebih baik berebut sayuran dan buah, yang bisa langsung dimakan atau dibawa pulang untuk dimasak,” kata Saekhu.

Lain halnya dengan Suripah, 46, warga Desa Linggoasri, Kecamatan Kajen, menjelaskan jumlah warga yang ikut berebut gunungan nasi megono sangat sedikit. Sehingga dirinya bisa mengambil nasi megono tersebut dalam jumlah besar untuk digunakan pakan bebek dan ayam.

Menurutnya, warga sudah tidak minat lagi berebut gunungan nasi megono, sejak nasi megono yang diperebutkan basi dan berbau busuk. “Sejak nasi megono yang diperebutkan busuk, warga kecewa dengan gunungan megono. Makanya nasi megono meski enak seperti ini, tetap dijadikan sebagai pakan ternak,” jelas Suripah.

Sementara itu, Bupati Pekalongan Amat Antono menuturkan bahwa Syawalan tahun depan, Pemkab Pekalongan akan mengemas lebih inovatif dan kreatif lagi, agar pengunjung tidak merasa jenuh. “Kami akan kaji Syawalan tahun ini. Akan kami kemas agar acara Syawalan lebih inovatif, sehingga pengunjung bisa meningkat,” tutur Antono. (thd/ida)