Ajukan Syarat Baru, Pedagang Batal Pindah

308
PASAR DARURAT : Tempat Penampungan Pedagang Sementara (PPS) Pasar Rejosari yang sudah dihuni sejumlah pedagang. (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
PASAR DARURAT : Tempat Penampungan Pedagang Sementara (PPS) Pasar Rejosari yang sudah dihuni sejumlah pedagang. (DHINAR SASONGKO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SALATIGA–Kooperatifnya Pemkot Salatiga terkait pembangunan Pasar Rejosari menyebabkan ketidakjelasan rencana pembangunan. Pedagang yang sebelumnya dinyatakan akan pindah pada 24 Juli mendatang bertepatan dengan HUT Salatiga, ternyata batal. Kini justru, pedagang menyatakan ingin bertemu dahulu dengan investor PT Patra Berkah Itqoni (PBI) sebelum pindah.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi (Disperindagkop) dan UMKM, Muthoin saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, kemarin. “Kami tetap persuasif. Kami yakin itikad baik mereka (pedagang yang menolak, red) untuk pindah secara mandiri pada saat HUT Salatiga, meski akhirnya batal. Kini mereka ingin bertemu investor terlebih dahulu,” papar Muthoin.

Mengenai rencana kepastian pertemuan, Muthoin belum bisa memastikan sebab PT PBI masih libur hingga 27 Juli mendatang. “Kami sudah menghubungi PT PBI, namun masih libur. Akan diagendakan secepatnya setelah mereka aktif bekerja kembali,” jelas pria yang akrab dengan wartawan.
Muthoin menambahkan, Pemkot Salatiga sebenarnya bisa melakukan pembongkaran, namun pihaknya berharap semua pihak tidak ada yang merasa dirugikan sehingga pembangunan bisa berjalan baik. Langkah yang dilakukan di antaranya dengan terus memberikan penjelasan kepada para pedagang yang membutuhkan informasi, termasuk soal harga kios dan los nantinya.

Sementara pihak PT PBI selaku investor yang ditunjuk untuk membangun Pasar Rejosari hingga kini mengaku pasrah kepada Pemkot, kapan pembangunan akan dibangun. “Kami saat ini hanya menunggu kapan Pemkot memberikan lampu hijau untuk membangun pasar. Kapanpun kita siap,” jelas Erry Enryanto, perwakilan PT PBI saat dikonfirmasi wartawan.

Ery Enryanto menuturkan pihaknya pasrah dan menurut dengan kebijakan Pemkot. “Kami hanya menunggu kabar dari Pak Muthoin mengenai perkembangan selanjutnya termasuk pertemuan dengan pedagang,” terang Ery.

Sebagaimana diketahui, penghuni tempat Penampungan Pedagang Sementara (PPS) Pasar Rejosari mendesak pihak Pemkot Salatiga bertindak tegas terhadap sejumlah pedagang ruko yang hingga kini masih menempati lokasi pasar yang akan direnovasi.

Setiawan, 60, salah satu pedagang menyatakan bahwa ketidaktegasan pihak pemerintah dirasa sangat merugikan penghuni lapak yang menjadi korban kebakaran Pasar Rejosari pada enam tahun silam. Mereka sangat berharap pembangunan Pasar Rejosari oleh investor segera terealisasi agar bisa kembali berdagang secara normal. Sebab, selama menempati pasar darurat, omzet para pedagang turun sangat drastis di bawah separo dari kondisi sebelumnya. (sas/ida)