Dilarang, Balon Tetap Mengudara

863
TERBANGKAN BALON : Balon udara berukuran besar yang dilengkapi dengan mercon diterbangkan warga Jalan Trikora Pragak, Kelurahan Yosorejo, Pekalongan Selatan, kemarin pagi. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TERBANGKAN BALON : Balon udara berukuran besar yang dilengkapi dengan mercon diterbangkan warga Jalan Trikora Pragak, Kelurahan Yosorejo, Pekalongan Selatan, kemarin pagi. (LUTFI HANAFI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

PEKALONGAN-Warga Pekalongan dan sekitarnya tetap menerbangkan balon udara, Jumat (24/7) kemarin, sebagai simbol peringatan Syawalan. Walaupun Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan sejak bulan Ramadan sudah tegas melarang warganya menerbangkan balon udara.

Bahkan, sejak pukul 06.00 pagi, setelah menggelar acara syukuran di masjid atau musala, warga Kelurahan Kuripan Lor, Kecamatan Pekalongan Selatan, dengan penuh semangat beraksi menerbangkan balon. Ada beragam bentuk dan ukuran yang diterbangkan dan mewarnai langit Pekalongan.

Moh Alif, 25, pemuda warga Kampung Sayudan, Kelurahan Kebulen Gang 2, Kecamatan Pekalongan Barat, mengaku warga di kampungnya secara swadaya, membuat sedikitnya lima balon udara. “Lima balon diterbangkan saat Syawalan ini,” kata Alif.

Hal yang sama juga dilakukan warga Kelurahan Yosorejo, Pekalongan Selatan. Para pemuda yang tergabung dalam AMP (Anak Muda Pragak), bergotong royong membuat balon udara berukuran ekstra jumbo. “Warga iuran membuat empat buah balon udara berukuran raksasa,” kata salah satu panitia pembuatan balon di Kelurahan Yosorejo, Bitta Qoyum.

Menurutnya balon-balon itu rata-rata memiliki tinggi 13 meter dengan lebar 9 meter. Untuk satu balon, menghabiskan dana hingga Rp 600 ribu. Dana sebanyak itu dipakai untuk membeli kertas minyak warna-warni, serta bahan dasar lainnya. Kemudian kertas tersebut ditempelkan satu sama lain, membentuk sebuah pola yang sudah diperhitungkan sehingga terlihat sangat menarik. “Pembuatannya memakan waktu hingga dua hari, secara gotong royong,” ungkap Bitta.

Untuk memeriahkan acara, dikasih petasan atau mercon yang diledakkan saat balon melayang di udara. Yono, salah satu warga setempat mengungkapkan bahwa balon setinggi10 meter dan berdiameter 4 meter tersebut, dibuat secara gotong rotong oleh warga. “Dibuat selama seminggu, dikoordinasi oleh pengurus masjid. Dananya cukup banyaklah, pakai proposal ke warga,” jelasnya semangat.

Yang sulit, katanya, modifikasi pemberian 5 unit terjun payung kecil, yang dibandoli petasan kecil. Namun saat diterbangkan, ternyata berhasil. Bahkan, hasilnya cukup bagus dan memukau ratusan warga yang menonton saat proses penerbangan.

Terkait larangan menerbangkan balon, dirinya beserta warga lain dengan tegas menolaknya. “Tidak mungkin Pemkot berani melarangnya. Ini sudah menjadi tradisi kami sejak lama,” ucap Yono.

Hal senada disampaikan Sulaiman, warga Kelurahan Sapuro Kebulen, Kecamatan Pekalongan Barat. Menerbangkan balon udara saat syawalan sudah menjadi tradisi dan budaya turun temurun warga Kota Pekalongan. Ia juga rutin membuat balon udara setiap tahunnya. “Sejak saya kecil, warga sini sudah menerbangkan balon. Bahkan kata orang tua, sudah menerbangkan balon sejak kecil,” ucap pemuda berumur 22 tahun ini.

Ketika dikonfirmasi, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Pekalongan, Dwi Arie Putranto mengungkapkan bahwa Gubernur Ganjar Pranowo dan Kementerian Perhubungan memang telah melayangkan surat kepada Pemkot Pekalongan berisi larangan menaikkan balon udara pada saat syawalan. Karena mempengaruhi lalulintas penerbangan. (thd/han/ida)