Kecam Kekerasan Atas Nama Agama

357
SIGAP: Rakor pemantapan situasi keamanan di Demak mensikapi pasca kejadian Tolikara Papua yang berlangsung di Bina Praja, kemarin. (Wahib pribadi/jawa pos radar semarang)
SIGAP: Rakor pemantapan situasi keamanan di Demak mensikapi pasca kejadian Tolikara Papua yang berlangsung di Bina Praja, kemarin. (Wahib pribadi/jawa pos radar semarang)

DEMAK – Insiden kekerasan atas nama agama yang terjadi di Tolikara, Papua membuat sejumlah daerah bergerak cepat agar tidak menyebar di daerah. Kantor Kesbangpolinmas Pemkab Demak dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) mengajak seluruh tokoh masyarakat dan tokoh agama rapat koordinasi (rakor) pemantapan situasi keamanan di wilayah Demak Pasca kejadian di Tolikara Papua. Rakor tersebut khusus untuk mengantisipasi situasi dan kondisi wilayah Demak pasca kejadian Tolikara, Papua.

Kepala Kesbangpolinmas Taufik Rifai mengatakan, kasus Tolikara harus diantisipasi supaya tidak menjalar ke Demak. Karena itu, semua tokoh dikumpulkan untuk mengantisipasi masalah tersebut. “Kita bicarakan bersama agar peristiwa serupa tidak terjadi di Demak,” katanya, kemarin.

Bupati Dachirin Said mengatakan, isu atas nama agama kerap menjadi instrument untuk memecahbelah masyarakat. Karena itu, harus ada komunikasi yang baik antar tokoh masyarakat dan agama supaya kondisi seperti di Papua tidak terjadi di Demak. “Para tokoh yang ada menjadi garda terdepan dalam meredam konflik. Karena itu, harus ada komunikasi yang baik antar tokoh. Kalau di Demak sendiri kita meyakini tidak akan terjadi sebagaimana yang telah terjadi di Papua,”katanya.

Kapolres Demak AKBP Heru Sutopo mengatakan, kerjasama yang baik antar tokoh dan elemen masyarakat dapat menjadikan situasi daerah kondusif. Dandim Letkol Inf Nanan Thomas juga berpendapat, bahwa berdasarkan pengalaman yang dialami selama ini, utamanya saat bertugas didaerah konflik, toleransi beragama mudah pecah salah satunya akibat diskenario pihak-pihak tertentu. Dengan begitu, masalah kecil berubah menjadi masalah besar. Misalnya saja, kerukunan beragama terganggu dengan adanya perkelahian kecil yang kemudian memicu masalah dikemudian hari. “Kita melihat Indonesia mudah dihancurkan dengan isu SARA. Karena itu, tokoh agama atau masyarakat jangan mudah terpancing dan harus bisa bersatu untuk menyelesaikan masalah yang terjadi,”katanya.

Ketua FKUB Demak, Abdullah Syifa’ mengatakan, pihaknya telah mengidentifikasi pemicu masalah di Tolikara Papua. Identifikasi diperlukan agar peristiwa tidak terjadi di Demak. “Kita berharap, jangan ada balas dendam dan tidak perlu mengirimkan kelompok jihad kesana karena bisa memicu masalah baru,”ingatnya.

Dalam rakor tersebut, juga dikeluarkan pernyataan bersama yang pada intinya mengecam segala bentuk kekerasan yang mengatasnamakan agama. Selain itu, mengajak masyarakat untuk selalu menjaga kerukunan dan cintai damai serta menjaga toleransi antar umat beragama. Kemudian, media diminta betindak adil dan proporsional dalam pemberitaan serta tidak memblow-up suatu peristiwa secara berlebihan.(hib/fth)