Warga Rowosari Kesulitan Air Bersih

407
BANTUAN AIR: Sejumlah warga Rowosari RW IX Tembalang saat antre air bersih yang dipasok PDAM Kota Semarang. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BANTUAN AIR: Sejumlah warga Rowosari RW IX Tembalang saat antre air bersih yang dipasok PDAM Kota Semarang. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

ROWOSARI – Bencana kekeringan mulai melanda warga Kota Semarang. Kali ini dialami oleh ribuan warga Kelurahan Rowosari, Kecamatan Tembalang. Sejak Mei lalu, mereka mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Banyak sumur warga mengering. Untuk keperluan memasak, warga terpaksa membeli air galon.

”Setiap tiga hari sekali, kami terpaksa membeli air galon isi ulang seharga Rp 3.500,” ujar salah seorang warga RW IV, Ana, 30, kepada Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Sedangkan untuk keperluan mandi dan mencuci, ia dan warga lainnya memanfaatkan air Kali Gede yang jaraknya sekitar 1 km dari kampungnya. ”Setelah mandi, biasanya warga pulang sambil membawa air menggunakan ember dan jeriken. Air itu yang digunakan untuk keperluan di rumah,” katanya.

Diakui, sejak Mei lalu, hampir semua sumur warga mengalami kekeringan. Kemarau panjang ditambah suhu udara yang menyengat, membuat sumur-sumur warga sudah tidak menghasilkan air lagi. ”Sumur-sumur itu akan kembali dipenuhi air jika sudah masuk musim penghujan,” paparnya.

Warga lainnya, Munawaroh, 39, mengatakan, sebelumnya warga untuk mendapatkan air bersih harus berjalan sejauh 2 km menuju Sendang Tosari. Namun pada musim kemarau ini, sendang tersebut juga mengalami kekeringan. ”Sebenarnya air dari Sendang Tosari layak buat memasak. Tapi, sekarang sendang tersebut juga mengering,” katanya.

Munawaroh menambahkan, untuk antisipasi kelangkaan air bersih, warga RW IX sebenarnya telah membuat sumur artetis sedalam 150 meter. Namun hasilnya nihil. Karena sumur artesis tersebut justru mengeluarkan bau tak sedap. ”Sumur artesis itu justru mengeluarkan gas yang bisa disulut dengan api seperti biogas,” ungkapnya.

Kemarin, warga RW IX Rowosari bisa sedikit lega. Karena bantuan air bersih dari PDAM Tirta Moedal Kota Semarang datang. Droping tersebut baru kali pertama dilakukan PDAM setelah tiga bulan warga setempat mengalami kesulitan air bersih. Tak pelak, warga pun langsung mengantre dengan tertib. Mereka menampung air bersih dengan jerigen, ember dan galon.

Terpisah, Ketua Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng, Sarwan Pramana mengatakan, pihaknya kini tengah gencar melakukan pengiriman air bersih ke lokasi kekeringan. Di wilayah Bakorwil I yang meliputi Rembang, Blora, Grobogan dan Pati terdapat 22 kecamatan dan 149 desa yang membutuhkan bantuan air bersih. ”Untuk wilayah tersebut, kami telah memasok air bersih sebanyak 534 tangki,” beber Sarwan Pramana kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Sedangkan di wilayah Bakorwil II yang meliputi Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, dan Boyolali terdapat 4 kecamatan dan 6 desa yang mengalami bencana kekeringan. Sejauh ini, kata Sarwan, sudah 41 tangki air bersih yang dikirim ke wilayah yang dilanda kekeringan.

Untuk wilayah Bakorwil III yang meliputi Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Tegal, serta Pemalang, terdapat 21 kecamatan dan 40 desa yang mengalami kekeringan. Pihaknya sudah memasok 179 tangki ke 40 desa tersebut. ”Saat ini, ada 16 kabupaten/kota yang mengajukan bantuan dana pengadaan air bersih. Namun dari jumlah tersebut, baru 2 kabupaten/kota yang telah lengkap persyaratannya,” ungkapnya. (hid/aro/ce1)