Produk Kerajinan Tangan Laris Manis

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

SEMARANG – Permintaan produk-produk kerajinan tangan khas Semarang naik hingga sekitar 30 persen selama mudik Lebaran lalu. Sebagian pemudik menjadikan kerajinan khas sebagai buah tangan untuk dibagikan saat kembali ke kota tujuan.

Salah satu yang kebanjiran order adalah perajin Batik Semarangan. Kekhasan motif yang ditawarkan menjadi daya tarik bagi para pemudik. “Permintaan naik hingga sekitar 35 persen dibanding hari biasa,” ujar Perajin Batik Semarangan Iin Windi Indah Cahyani, kemarin.

Selain itu, batik dianggap lebih tahan lama dan cukup nyeni. Baik untuk dikenakan sendiri maupun untuk buah tangan. Produk kain batik tulis, baju serta dress banyak diburu. Motif dan model yang beragam memberi lebih banyak pilihan. “Selain makanan, batik memang banyak diburu para pemudik,”ujar salah satu perajin di Kampung Batik Bubakan ini.

Namun begitu, ucap Windi, stok kain batik yang kami miliki tidak terlalu banyak. Perajin batik di workshopnya sudah kewalahan melayani permintaan sebelum Hari Raya tiba. Produk kain batik tulis hingga baju jadi sudah ramai diburu untuk dijadikan parsel. “Produk batik tulis sehingga membutuhkan waktu lebih banyak untuk menyelesaikan satu kain. H-1 sebelum Hari Raya Idul Fitri stok sudah habis jadi hingga hari ini (kemarin) tinggal menghabiskan stok,” katanya.

Selain batik, tas handmade asli Semarang juga ramai diburu pemudik. Selain mengusung konsep simpel, tas berlabel d’cLa yang banyak dicari pemudik dari Jakarta dan Bandung ini memiliki ciri khas perpaduan kain-kain tradisional di tiap produk yang dikeluarkan. “Tahun ini kenaikan mencapai 30 persen tidak seramai tahun lalu yang mencapai 50 persen,”ujar Pemilik Claudyna Chlastriningrum.

Dia memperkirakan pemudik menggunakan kendaraan pribadi lebih sedikit dibandingkan moda transportasi umum seperti pesawat dan kereta. Sehingga pemudik lebil kecil datang ke galeri karena tidak membawa kendaraan saat mobilitas di Kota Semarang. “Kemungkinan ini alasannya mengapa kunjungan ke galeri menurun,”ujarnya. (dna/zal)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -