728 TKW Tertahan di Saudi Arabia

418
TKW ILEGAL : Harun Saad, ayah Herlina menunjukkan foto putrinya Herlina, warga Desa Tegaldowo, Kecamatan Tirto, yang melarikan diri dari majikan sebelumnya di Arab Saudi. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)
TKW ILEGAL : Harun Saad, ayah Herlina menunjukkan foto putrinya Herlina, warga Desa Tegaldowo, Kecamatan Tirto, yang melarikan diri dari majikan sebelumnya di Arab Saudi. (TAUFIK HIDAYAT/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KAJEN-Sebanyak 728 Tenaga Kerja Wanita (TKW) dari Kabupaten Pekalongan yang berangkat ke Saudi Arabia sejak tahun 2009, hingga kini masih tertahan dan belum ada kabar kejelasannya. Akibatnya ratusan keluarga TKW di Kabupaten Pekalongan, merasa gelisah. Terlebih dengan adanya aturan dari Negara Arab Saudi, yang telah menghentikan pengiriman dan memulangkan paksa TKW ilegal.

Sebagaimana yang disampaikan Harun Saad, 62, warga Desa Tegaldowo RT 02 RW 01, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan. Senin (27/7) kemarin, mengungkapkan bahwa Herlina, 32, putri pertamanya sejak tahun 2010 bekerja di Arab Saudi. Namun sejak tahun 2012, tidak pernah memberikan kabar tentang kondisinya di sana. Padahal sebelum tahun 2012, Herlina masih sering memberi kabar tiap dua minggu atau sebulan sekali dengan menelepon ke Pekalongan.

“Tanggal 25 Juli 2015 kemarin, Herlina memberi kabar bahwa dirinya sudah melarikan diri karena sering mendapatkan siksaan dari majikannya. Herlina minta bantuan pemulangan ke Indonesia,” ungkap Harun.

Harun mengaku tidak tahu harus meminta bantuan kepada siapa. Pasalnya, Herlina saat berangkat ke Arab Saudi melalui PJTKI yang ada di Kota Pekalongan dan telah menandatangani kontrak kerja selama 4 tahun. Sedangkan kantor PJTKI tersebut sekarang sudah tutup.

”Herlina melarikan diri awal tahun 2013. Sedangkan, semua dokumen penting masih di tangan majikannya. Setiap kali menelepon, selalu dengan nada ketakutan dan menangis. Saya khawatir, karena anak saya sekarang menjadi TKW ilegal dan sudah 8 tahun tidak pulang,” kata Harun Saad.

Hal senada dikatakan Maryati, 38, warga Desa Rengas, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, TKW yang baru pulang 3 bulan lalu. Menurutnya, banyak TKW dari Kabupaten Pekalongan yang ingin pulang kampung namun tidak bisa. Karena tidak diizinkan oleh majikannya, sebelum mendapatkan pengganti TKW baru.

“Sejak adanya larangan pengiriman TKI, majikan di Arab Saudi memperlakukan aturan kerja yang sangat ketat. Tidak boleh pulang ke Indonesia, jika belum ada penggantinya,” jelas Maryati.

Kasi Penempatan Tenaga Kerja, Kantor Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans) Kabupaten Pekalongan, Marhaen membenarkan jika ratusan TKW asal Kabupaten Pekalongan masih bekerja dan tertahan di Arab Saudi. Umumnya, karena kontrak kerjanya diperpanjang dan harus menunggu TKW pengganti yang datang atau pindah bekerja di tempat lain dengan majikan baru.

”Ada sekitar 728 TKW Kabupaten Pekalongan di Arab Saudi. Ada sebagian TKW yang datang melapor, mereka tidak bisa pulang karena belum ada penggantinya. Padahal saat ini ada moratorium yang melarang pengiriman TKW. Tentu saja, sangat sulit mencari pengganti TKW baru,” tandas Marhaen.

Menurutnya, dari 728 TKI, hanya 3 pria yang bekerja sebagai sopir. Selebihnya 725 adalah TKW yang berasal dari Kecamatan Buaran, Kedungwuni, Bojong dan Kesesi. “Saat ini, banyak keluarga TKW yang datang ke Dinsosnakertrans menanyakan kabar keluarganya, karena putus hubungan komunikasi,” tegas Marhen. (thd/ida)