Omzet Penjualan Merosot, Lebaran Harus Prihatin

407
SEPI PEMBELI: Sutrisno, pedagang kaligrafi di lapak darurat Jalan KH Agus Salim Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SEPI PEMBELI: Sutrisno, pedagang kaligrafi di lapak darurat Jalan KH Agus Salim Semarang. (NUR CHAMIM/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Kebakaran Pasar Johar pada Mei silam jadi pukulan berat bagi para pedagang pasar legendaris di Kota Semarang tersebut. Termasuk para pedagang kaligrafi. Di tempat darurat, mereka mengeluh sepi pembeli. Seperti apa?

M. HARIYANTO

SUTRISNO tampak termangu memandangi kaligrafi jualannya yang tak kunjung laku. Sudah hampir menjelang sore, ia tak juga mendapatkan pembeli. Pria 49 tahun ini mengakui, berjualan di lapak penampungan sederhana tak seperti saat masih berjualan di dalam Pasar Johar sebelum terbakar lalu. Di kios darurat, omzet penjualan kaligrafinya merosot tajam.

”Sekarang pembelinya sepi, tidak sepeti waktu jualan di Pasar Johar. Dulu sehari bisa dapat Rp 2 juta-Rp 3 juta. Sekarang paling hanya Rp 200 ribu-Rp 350 ribu, masih kepotong biaya makan, uang keamanan, kebersihan, dan bayar listrik. Sehari paling hanya laku 3 kaligrafi. Harganya bervariasi mulai Rp 15 ribu sampai Rp 2 juta,” ujar Sutrisno kepada Jawa Pos Radar Semarang, belum lama ini.

Bapak tiga anak ini mengaku merintis usaha kaligrafi sejak 1980-an dengan modal pas-pasan sebesar Rp 200 ribu. Saat itu, ia selalu menyimpan sisa hasil keringatnya sebesar Rp 15 ribu setiap harinya. Dari uang yang terkumpul, ia bisa mengembangkan usahanya sampai sekarang.

”Awalnya ya buka kecil-kecilan. Saya hanya menjual kaligrafi yang harga murah dulu. Kadang barang dagangan milik teman saya jualkan. Lumayan, kalau laku dapat komisi,” kenangnya.

Meski begitu, Sutrisno juga pernah mengalami kejadian pahit ditipu hingga rugi Rp 12 juta. ”Kejadiannya tahun 2009. Gara-gara pesan barang, ternyata pesanannya tidak sampai tujuan. Ehh lha kok sekarang kena musibah lagi. Pasar kebakaran, hingga saya rugi sampai Rp 70-an juta,” kata pedagang yang kini berjualan di Jalan KH Agus Salim, Semarang.

Pasca kebakaran, dengan modal terbatas, ia mencoba bangkit lagi. Namun rupanya keberuntungan tidak seperti saat di Pasar Johar. Karena sekarang sepi pembeli. Bahkan, saat Lebaran lalu, ia harus merayakan dengan penuh keprihatinan. ”Saya tetap mudik ke kampung halaman di Purworejo, tapi tidak seperti Lebaran tahun lalu. Sekarang kami harus prihatin,” ujar suami Yulianti, 46, ini.

Hal sama juga diungkapkan pedagang kaligrafi lainnya, Nursalim, 52. Pedagang Pasar Johar ini juga mengeluh sepi pembeli, hingga omzet penjualannya turun drastis. Ia mengaku dalam sehari hanya mampu mendapatkan omzet penjualan Rp 200 ribu–Rp 500 ribu. Padahal sebelum Pasar Johar terbakar, sehari ia bisa mengantongi Rp 2 juta-Rp 3 juta.

”Sekarang jualan di penampungan sangat sepi, apalagi tempatnya kecil, barang yang dipajang juga terbatas. Sehari paling banyak laku 7 barang. Kemarin waktu kebakaran ludes semua. Barang baru saya stok. Kira-kira ya rugi Rp 200 juta,” katanya.

Ia mengaku menekuni usaha kaligrafi dan lukisan sejak 1976. Nursalim sendiri awalnya tinggal di Kudus, lalu hijrah ke Semarang pada 1974. Saat itu, ia bekerja membantu temannya menjualkan kaligrafi dengan upah Rp 900 per hari.

”Penghasilan segitu untuk hidup di Kota Semarang ya tidak cukup. Kalau makan pagi saja nasi kucing 1 bungkus, sorenya baru bayar. Lalu tahun 1976 nekat jualan sendiri dengan modal pas-pasan dari tabungan selama bekerja di tempat teman itu,” kenangnya.

Nursalim berharap, pemerintah memperhatikan nasib pedagang Pasar Johar. Karena sejak menempati lapak penampungan, semua mengeluh sepi pembeli. ”Bukan hanya kami, tapi hampir semua pedagang mengeluh sepi pembeli. Bahkan, yang mendapat kios darurat di Jalan Agus Salim dekat Miramar saja terkadang sama sekali nggak laku,” ujarnya. (*/aro/ce1)