Kontingen Tegal Unggulkan Lomba Gapura

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

BERSAING KETAT : Terlihat pernak-pernik dan model gapura kontingen Kwarcab Kabupaten Tegal dan Kudus yang dibuat sedemikian rupa guna memenangkan lomba kreativitas pembuatan gapura, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)
BERSAING KETAT : Terlihat pernak-pernik dan model gapura kontingen Kwarcab Kabupaten Tegal dan Kudus yang dibuat sedemikian rupa guna memenangkan lomba kreativitas pembuatan gapura, kemarin. (EKO WAHYU BUDIYANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

KARANGGENENG–Meski memiliki bentuk tenda yang sama seperti kebanyakan tenda dari kontingen kwarcab yang lain, namun konsep yang disuguhkan oleh kontingen Kabupaten Tegal berbeda dengan beberapa kontingen yang lain pada Jambore Daerah (Jamda) IX di Bumi Perkemahan Candra Birawa ini.

Kontingen Kabupaten Tegal lebih menonjolkan ciri khas daerahnya dalam mengias lingkungan tendanya. Ketika hendak memasuki lingkungan tenda, maka pengunjung akan disuguhi sebuah gapura yang terbuat dari bambu yang disusun sedemikian rupa.

Selain itu, dua buah wayang yang terbuat dari kertas yang memiliki tinggi 1,5 meter dihiaskan pada pintu gapura tenda. Dari jauh, gapura tersebut tampak memiliki ornamen wayang kulit. Salahsatu pendamping dari Kwarcab Kabupaten Tegal, Sri Hartati mengatakan, itu merupakan ciri khas daerah asal kontingen Tegal.

“Kabupaten Tegal kan dikenal dengan wayang. Karenanya kita ingin menampilkan ciri khas daerah asal kita. Selain itu, kita juga memanfaatkan beberapa barang bekas yang dibentuk sedemikian rupa,” kata Sri, Rabu (5/8) kemarin.

Berdasarkan pantauan Jawa Pos Radar Semarang, beberapa fasilitas disediakan di dalam lingkungan tenda kontingen Kabupaten Tegal. Fasilitas tersebut meliputi satu tenda untuk peserta, satu tenda untuk tamu, tempat diskusi, mushola, dapur, perpustakaan dan kursi untuk santai.

“Sesuai dengan petunjuk dan arahan panitia, kami hanya pakai tali temali. Karena tidak boleh pakai listrik kita akhirnya lampion (ceplik). Melalui kegiatan dan fasilitas yang kami sediakan ini, diharapkan anak terdidik menjadi mandiri. Jadi anak akan berbeda saat pulang ke rumah, misalnya menjadi lebih berempati,” tuturnya.

Sementara itu, Siti Anisa Riska yang juga merupakan salahsatu pendamping dari Kontingen Kwarcab Kabupaten Tegal mengatakan, 2 tim dari kontingennya diikutkan dalam Jamda. Untuk putri sebanyak 2 peserta dan 2 orang pendamping serta 2 orang tim pendukung.

“Konsep pembuatan tenda dan beberapa pernak-pernik di lingkungan tenda sendiri dipersiapkan sejak sebelum puasa. Jadi memang sudah dipersiapkan dengan matang oleh kami. Pada Jamda kali ini beberapa lomba memang kami ikuti. Namun yang menjadi harapan kami, lomba untuk kreativitas gapura, kami optimistis bisa menang,” kata Siti.

Beberapa kendala memang sempat dialami kontingen ini, yaitu jarak yang cukup jauh. Meski begitu, gapura beserta pernak-perniknya dipersiapkan sebelumnya dari daerah asal, yang kemudian tinggal merakit ketika sampai di bumi perkemahan.

Pihaknya juga mengeluhkan jumlah fasilitas MCK yang belum mencukupi. Alhasil beberapa peserta harus mandi di rumah beberapa penduduk dengan cara membayar. Ia tidak menjelaskan berapa tiap peserta harus merogoh kocek untuk mandi di rumah penduduk.

“Sebenarnya air sudah cukup. MCK sudah disediakan. Cuma karena antre, anak-anak keluar ke rumah penduduk. Mereka bayar ke rumah penduduk. Karena anak tidak sabar antre. Selain itu, akses komunikasi kurang, karena hanya memakai radio streaming. Jadi terkadang informasi dari panitia tidak sampai ke kami,” tuturnya.

Lomba teknik dan komposisi serta tata letak Gapura Pertendaan dan K3 menjadi incaran seluruh kontingen untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Berdasarkan pantauan di lapangan, ragam dan macam serta teknik gapura pertendaan setiap kontingen mempunyai ciri dan bentuk yang beragam.

Ada yang mewakili identitas kota/kabupaten, ada juga yang mengedepankan aspek pioneering kepramukaan serta teknik monumental dan fungsi atau kegunaan masing masing ornamen yang ada. Dari 35 kontingen yang mengikuti Jamda 2015 ini, masing-masing mengsung tema yang berbeda namun ada pula yang menggunakan konsep sama. (ewb/ida)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -