Pilih Tokoh Gatotkaca Biar Bisa Terbang

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

DIDAMPINGI MAMA: Michael Noa yang tampil dengan busana tokoh Gatotkaca. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)
DIDAMPINGI MAMA: Michael Noa yang tampil dengan busana tokoh Gatotkaca. (ADITYO DWI/JAWA POS RADAR SEMARANG)

Costum Player (cosplay) identik dengan dandanan ala tokoh kartun dari Jepang. Tapi, cosplay yang digelar di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Minggu (9/8) kemarin cukup beda. Gelaran Wayang Cosplay Bocah ini dikemas dengan dandanan ala tokoh pewayangan Jawa yang dilakoni oleh anak-anak seumuran 2-3 tahun. Seperti apa?

AJIE MH

UNIK, lucu, sekaligus nyentrik. Seperti yang terlihat ketika Michael Noa Paristya. Bocah dua tahun ini langsung menangis ketika ibunya menyematkan topi Gatotkaca sesaat sebelum pentas dimulai.

Ketika naik ke atas panggung, Gatotkaca ini berjalan biasa. Mungkin memang belum begitu mengerti bagaimana gambaran cara berjalan lakon bersosok tinggi gagah ini. Bahkan ketika ditanya pembawa acara, alasan mengapa menjadi Gatotkaca, Noa hanya menjawab singkat. ”Gatotkaca biar bisa terbang,” ujarnya.

Belum lagi Gregorius Alvin. Bocah dua tahun yang berdandan meniru Semar ini terbilang mirip. Sosoknya yang gempal dengan dengan bedak putih yang tebal di muka ini membuat siapa saja tahu kalau dia adalah sosok pentolan Punakawan. ”Sebenarnya malu om, tapi lama-lama asyik juga,” ucapnya.

Panitia acara Arif Setyawan menuturkan, gelaran ini merupakan wujud nguri-uri budaya Jawa yang harus dikenalkan kepada anak sedini mungkin. Bahkan, mungkin para orang tua yang mengantarkan pun juga harus disentil agar mau mengajarkan budaya kepada anak-anak mereka.

”Budaya harus dikenalkan sejak dini agar bisa terus terpatri. Selain itu, kami juga bermaksud mengajak masing-masing orang tua peserta agar terus mengenalkan budaya Jawa kepada anaknya,” ucapnya.

Festival yang dikemas dalam bentuk lomba ini, kata Arif, sebenarnya diikuti 20 anak dari beberapa PAUD (pendidikan anak usia dini) di Kota Semarang. ”Tapi kemarin sudah diseleksi menjadi enam peserta untuk ditampilkan di sini. Semuanya merupakan juara 1-3 dan harapan 1-3,” pungkasnya. (*/aro/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -