Usulkan Hujan Buatan untuk Atasi Kekeringan

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

SEMARANG – Musim kemarau diprediksikan akan berlangsung lama. Jika tidak segera mendapatkan penanganan, jumlah areal lahan yang mengalami kekeringan akan semakin meluas. Hingga saat ini, total area yang terdampak kekeringan mencapai 15 hektare yang tersebar di 15 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Atas hal tersebut, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jawa Tengah mengusulkan untuk menerapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) atau yang lazim disebut hujan buatan.

”Jadi masing-masing dinas diminta mengusulkan pada gubernur untuk dilanjutkan pada rapat dengan BNPB. Dinas ESDM usulkan sumur, Dinas Pertanian usulkan pompa, BPBD usulkan bantuan tangki air bersih dan kami (Dinas PSDA) usulkan TMC,” ungkap Kepala Dinas PSDA Jateng Prasetyo Budie Yuwono, Senin (10/8).

Prasetyo menjelaskan, jika usulan tersebut disetujui, pihaknya akan menurunkan hujan buatan di wilayah Pantura yakni mulai dari Brebes hingga Rembang. Termasuk sebagian wilayah selatan Jawa. Menurutnya, tujuan utama dari hujan buatan itu bukan untuk lahan irigasi melainkan penyediaan air bagi warga melalui waduk-waduk kecil. ”Untuk sekali proses pembuatan hujan, setidaknya membutuhkan dana Rp 150 juta,” imbuhnya.

Untuk dapat melakukannya, lanjut Prasetyo, Dinas PSDA akan terlebih dahulu berkordinasi dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jateng. Hal ini dilakukan untuk mengetahui arah angin. Sehingga lokasi yang dituju tepat sasaran dan tidak merugikan warga lain. ”Sebelumnya, kami pernah melakukan. Hujan yang semestinya turun di Batang ternyata berbelok ke Temanggung,” terangnya.

Terpisah, Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Jateng, Reni Kraningtyas saat dikonfirmasi menyarankan bahwa sebaiknya hujan buatan dilakukan pada akhir September atau awal Oktober. Sebab, pada saat itu telah muncul awan cumulus atau cumulonimbus, yakni awan yang berpeluang memunculkan hujan lebat. ”Jika dilakukan bulan Agustus atau September awal, agak sulit. Benih awan cumulus belum muncul. Jika dipaksakan, nanti hanya akan jadi gerimis atau hujan tapi spot-spot. Sehingga kurang efektif,” tukasnya. (fai/zal/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -