Tidak Terapkan 5 Hari Sekolah

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

PEKALONGAN-Pemkot Pekalongan tidak menerapkan lima hari sekolah seperti yang diwacanakan Gubernur Ganjar Pranowo, pada tahun ajaran 2015 -2016 ini. Hal itu dilakukan demi menghormati kearifan lokal.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Pemkot Pekalongan, Agust Marhaendayana mengungkapkan bahwa wacana lima hari sekolah, kurang pas dengan kearifan lokal di Kota Pekalongan. Meski tujuannya untuk memberikan waktu lebih para siswa agar bisa berkumpul bersama keluarga. “Namun kalau diterapkan di Kota Pekalongan sangat sulit,” katanya.

Menurutnya, sekolah swasta di Kota Pekalongan 95 persen berbasis Islam dan mengambil libur pada hari Jumat. Dan liburnya tidak bisa diganti menjadi Sabtu Minggu. Sedangkan sekolah negeri mengambil libur pada hari Ahad. Sehingga penerapan kebijakan yang diwacanakan Gubernur Ganjar sulit diterapkan.

“Sebelumnya kami sudah mengumpulkan semua stakeholder sekaligus kepala sekolah di seluruh Kota Pekalongan untuk membicarakan masalah ini. Tapi Pemkot tidak bisa melakukan intervensi pada pihak sekolah, terutama swasta terhadap penerapan kebijakan tersebut,” kata Agust, Kamis (13/8) kemarin.

Selain itu, imbuhnya, hampir sebagian besar siswa di Pekalongan beragama Islam. Sehingga sore hari digunakan untuk belajar ngaji atau Taman Pendidikan Alquran. “Kalau menerapkan lima hari sekolah, mereka tidak bisa melaksanakan ngaji di TPQ,” tandasnya.

Bahkan, imbuhnya, masih banyak alasan lain yang disampaikan stakeholder. Seperti banyaknya tugas yang akan membebani siswa jika harus pulang sore. Selain itu, jam pulang sore cukup membebani siswa luar kota, karena siswa yang sekolah di Pekalongan banyak yang dari luar kota. “Jika membiarkan siswa pulang larut, justru membahayakan. Intinya kami belum bisa menggunakan kebijakan tersebut saat ini,” tutupnya. (han/ida)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -