Ratusan Warga Bejalen Ngamuk

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

UNGARAN- Ratusan warga Desa Bejalen, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang ngamuk. Ini setelah mereka dilarang masuk ke areal objek wisata Kampoeng Rawa yang lokasinya masih berada di wilayah desa tersebut. Warga yang marah sempat menghajar Ketua Koperasi Jasa Pariwisata (Kopjapari) sekaligus Manajer Kampoeng Rawa, Agus Sumarno, hingga pingsan. Agus Sumarno dan pengawalnya yang turut diamuk massa langsung dilarikan ke rumah sakit untuk menjalani perawatan. Hingga Senin (17/8) kemarin, Agus Sumarno masih menjalani perawatan di RS Ken Saras, Karangjati.

Kepala Desa Bejalen, Nowo Sugiharto, mengatakan, keributan di Kampoeng Rawa terjadi pada Jumat (14/8) sore lalu. Peristiwa tersebut merupakan puncak kemarahan warga. Sebab, selama ini tidak ada keterbukaan dalam pengelolaan Kampoeng Rawa. Padahal lahan yang digunakan tersebut milik Desa Bejalen, dan juga ada lahan untuk pertanian warga Tambakboyo. Namun sudah empat bulan tidak ada bagi hasil atas keuntungan bisnis tersebut.

“Lahan yang digunakan itu milik Desa Bejalen, tapi mereka tidak ada itikad baik. Sudah 4 bulan tidak ada bagi hasil ke desa kami, termasuk ke Kelurahan Tambakboyo. Kami sudah berupaya menanyakan hal itu dan berupaya melakukan pembahasan ditengahi oleh Polres Semarang. Upaya kami ini untuk pembenahan, kami ingin ada transparansi pengelolaannya. Tetapi Pak Agus Marno tidak pernah mau hadir untuk membahas hal itu,” kata Nowo.

Praktis, permasalahan tidak kunjung mencapai penyelesaian. Hal itu memaksa pihak Desa Bejalen melayangkan surat untuk pembatalan kerjasama penggunaan lahan tersebut dengan Kampoeng Rawa. Namun hal itu tidak digubris oleh pihak Kampoeng Rawa. Sehingga kepala desa dan beberapa warga berusaha menemui Agus Sumarno untuk meminta kejelasan penyelesaian permasalahan tersebut.

“Saat kami akan masuk, dihadang 9 orang tenaga keamanan dari Kota Semarang dan seorang pengacara. Mereka mengatakan, selain yang tidak berkepentingan dilarang masuk. Alasannya, tanah itu dalam penguasaan mereka. Padahal saya mau ketemu Pak Agus Sumarno, tapi dilarang. Kami katakan, kalau dilarang masuk, padahal jalan ini sudah ada sejak dulu sebagai jalan usaha pertanian. Tentu saja warga akan tidak terima,” tutur Nowo.

Nowo mengatakan, dirinya tidak dapat mencegah ratusan warga yang sudah marah. Warga semakin marah karena Agus Sumarno mengancam sembari tangannya mengambil benda seperti pistol airsoft gun dari pinggang. “Saya sampai di pendopo Kampoeng Rawa, Pak Marno sudah terkapar dan satu tenaga keamanan sudah terluka. Kemudian saya angkut ke RSUD Ambarawa,” tutur Nowo.

Kasus tersebut langsung ditangani aparat Polsek Ambarawa dan Polres Semarang. Polisi memanggil sejumlah saksi dan pihak terkait baik pengurus Kampoeng Rawa dan Kepala Desa Bejalen, Nowo Sugiharto. Pasca keributan tersebut, Senin (17/8) kemarin, warga Desa Bejalen mendatangi kantor DPRD Kabupaten Semarang memohon perlindungan kepada dewan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut, sehingga kasus tidak berkepanjangan.

Perwakilan Desa Bejalen, Rohmad Adi, mengatakan, pihaknya menyadari tindakan warga Bejalen keliru di mata hukum. Menurutnya, adanya gerakan massa tersebut karena dipicu adanya permasalahan sebelumnya. Pihaknya berharap agar permasalahan dapat diselesaikan dengan cara mediasi. Sehingga warga meminta anggota DPRD Kabupaten Semarang untuk turun tangan mengatasi permasalahan tersebut.

“Kalau sampai diproses (hukum), maka kami seluruh warga akan datang ke sini. Kami tidak ingin hak kami bertanya soal RAT (rapat anggota tahunan) tidak diberi, tetapi justru permasalahan (penganiayaan) ini yang muncul. Kami datang ke DPRD memohon bantuan agar ada upaya penyelesaian. Sebab, apakah warga Bejalen ini siap menghadapi masalah hukum? Sehingga kami berharap ada upaya damai,” kata Rahmad.

Kasat Reskrim Polres Semarang, AKP Herman Sopian, mengatakan, kasus pengeroyokan tersebut saat ini masih dalam penyelidikan. “Kami konsentrasi untuk kasus pidana pengeroyokannya, yang jelas di sana sudah terjadi tindak pidana. Sehingga kami melakukan proses hukum. Sedangkan untuk masalah intern Kampoeng Rawa itu biar mereka yang menyelesaikan,” kata Herman. (tyo/aro)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -