Sigit Janji Angkat Potensi Budaya Semarangan

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

CINTA WAYANG KULIT: Calon Wali Kota Semarang Sigit Ibnugroho dan Calon Wakil Wali Kota Agus Sutyoso saat membeli wayang kulit di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) sebagai wujud dukungan terhadap kesenian Semarang. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
CINTA WAYANG KULIT: Calon Wali Kota Semarang Sigit Ibnugroho dan Calon Wakil Wali Kota Agus Sutyoso saat membeli wayang kulit di Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) sebagai wujud dukungan terhadap kesenian Semarang. (AJIE MH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

SEMARANG – Budaya dan kesenian di Kota Semarang kerap dipandang sebelah mata. Memang, jika dibanding beberapa kota di lingkup Jateng, Kota Atlas belum ada apa-apanya. Melihat fenomena ini, calon Wali Kota Semarang Sigit Ibnugroho terpacu untuk mengangkat potensi seni budaya.

Menurut Sigit, seni budaya bisa dibilang ujung tombak mental masyarakat. Sesuai visi misinya, ingin membangun kota yang bermartabat, pengusaha salah satu produk elektronik ini ingin mengajak warga Semarang kembali ke budaya. “Budaya itu kan akar seseorang. Dan pastinya, budaya mengajari kebajikan hingga menjadi manusia yang bermartabat,” ungkapnya ketika dihubungi Jawa Pos Radar Semarang, kemarin.

Karena itu, Sigit yang menggandeng Agus Sutyoso untuk maju di Pilwalkot pada 9 Desember mendatang, ingin memperkuat seni budaya. Bukan hanya Jawa, juga budaya lain yang tumbuh di Semarang. “Nilai Kebudayaan lokal harus diutamakan. Semarang itu bukan hanya dihuni orang Jawa saja. Kota ini merupakan akulturasi dari berbagai suku. Arab, Tionghoa, dan Jawa itu sendiri. Semua harus dirangkul dan didudukkan sejajar,” ucapnya.

Saat ini, Sigit menilai, belum ada pemerataan untuk mengangkat masing-masing potensi dari beragam suku tersebut. Budaya Jawa seperti wayang orang, wayang kulit, taria-tarian, dan lain sebagainya masih terlalu dominan. Padahal masih ada Warak Ngendhog asli Semarang, barongsai milik kaum Tionghoa, dan rebananya orang Arab. Tapi ketiga pentas budaya itu hanya digelar sebatas ketika ada festival atau mendekati even-even tertentu saja.

Jika diberi wadah dan kesempatan untuk berkarya, pastinya masih banyak kreasi-kreasi seni budaya yang bisa ditampilkan dari berbagai suku tersebut. “Kalau sudah cukup matang, rentetannya kan masih banyak. Bisa dikemas untuk mendukung pariwisata misalnya. Yang pasti, akan meningkatkan derajat dan kesejahteraan seniman dan budayawan,” tegas Sigit.

Baginya, Semarang sekarang belum punya ciri khas jika diobrolkan dalam konteks seni budaya. Hanya follower Jogja dan Solo, di sana sedang ramai apa, tidak lama kemudian Semarang ikut-ikutan. Ya, kota ini belum berani menggali budaya lokal sendiri yang pastinya tidak kalah dengan kota-kota lain.

Sigit menyayangkan, Semarang masih saja membanggakan peninggalan-peninggalan kolonial. Seperti Lawang Sewu, Kota Lama, dan lain sebagainya. “Peninggalan penjajah kok malah dibanggakan. Secara tidak langsung, berarti kita bangga dijajah dong. Pemimpin itu harus punya kreativitas. Mending tenaganya untuk membangun budaya asli hingga menjadi hebat. Tapi, kehebatan tidak akan ada artinya tanpa martabat. Karena itu, budaya harus segera diselamatkan di Semarang,” tegas Sigit. (amh/aro)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -