Bisa Plesiran Berkat Tari

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

(DOKUMENTASI PRIBADI)
(DOKUMENTASI PRIBADI)

KARISMA Nur Aunari Bowo tidak pernah menyangka. Obsesinya jalan-jalan ke penjuru nusantara bisa terwujud meski belum dewasa. Bahkan dia tidak merogok kocek sepeser pun untuk plesiran tersebut. Itu semua berkat keahliannya menari. Prestasinya itu membuat penari Sanggar Greget ini bisa tampil ke mana-mana.

Dia mengaku, yang paling berkesan adalah ketika tampil di Istana Negara. “Memang cita cita sejak kecil bisa ke Istana Negara, gara-gara lihat Paskibraka di televisi. Eh, dapat kesempatan ke sana justru lewat menari,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Karisma mengaku tertarik seni tari saat duduk di bangku kelas 3 SD. Saat itu, dia mulai mengikuti ekstrakurikuler yang ada di sekolah. Dia terpilih ikut pentas waktu acara perpisahan kelas 6 SD. Penampilannya kala itu menggugah kesadaran orangtua bahwa sang buah hati memiliki bakat di bidang seni tari.

”Orangtua lantas berinisiatif memasukkan aku ke Sanggar Tari Greget. Jadi, saya gabung sanggar mulai kelas 5 SD sampai sekarang,”ucap mahasiswi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Diponegoro (Undip) ini.

Karisma mengenang saat awal latihan di sanggar. Gerakan dasar diakui tidak terlalu sulit untuk ditaklukkan. Tarian Kupu- Kupu adalah pentas pertama kali yang dipamerkan ke masyarakat. Beragam pengalaman menarik diperoleh dengan menari. ”Tapi, pengalaman sangat berkesan saat menari pada upacara penurunan bendera 17 Agustus 2013 di Istana Negara. Selain itu, juga bisa ke luar negeri berkat menari,” katanya.

Bagi Karisma, menari adalah bagian yang tidak bisa dipisahkan dari hidupnya. Dengan menari, ia bisa mengekspresikan diri. Di sisi lain, dia melihat remaja saat ini sudah jarang mau melestarikan budaya lewat tari.

”Saat manggung di luar negeri merasa lebih diapresiasi penonton. Orang luar negeri saja tertarik dengan kebudayaan kita. Nah, orang Indonesia yang memiliki budaya seharusnya mau melestarikan,” ujarnya. (amh/aro)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -