Pestanya Wong Semarang

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

Oleh: Djawahir Muhammad

HARI Minggu kemarin telah berlangsung ”Pesta Rakyat” di Kampung Tanggungrejo, Kaligawe Semarang. Benarkah pesta yang kali keempat ini mengatasnamakan rakyat Semarang? Tentu saja benar. Sebab, rakyat di kampung ini adalah bagian dari komunitas ”wong” Semarang, apalagi puluhan seniman, ratusan warga dan beragam kesenian rakyat digelar oleh para pelaku adat dari kampung nelayan ini.

Pertanyaannya, siapakah yang disebut ”rakyat” atau ”wong Semarang” ini? Seberapa jauh prestasi mereka secara pribadi, atau dalam kapasitasnya sebagai sebuah komunitas ”wong Semarang?”
Yang dimaksud dengan ”wong Semarang” dalam tulisan ini adalah mereka yang lahir, besar dan menghabiskan sebagian umurnya di kota ini, atau setidak-tidaknya pernah tinggal untuk bersekolah atau bekerja untuk sementara waktu di sini. Akan lebih spesifik lagi, jika memiliki pertalian sejarah, nasab (keturunan) dan ikatan memori berupa karya atau sesuatu yang bermakna bagi lingkungan dan masyarakat, misalnya ”mewakili” kehadiran atau sebagai wujud representasi kota ini.

Contohnya, Prof Eko Budihardjo (almarhum) atau Chris Jhon yang berasal dari Banjarnegara, tetapi prestasi keduanya dapat dikategorikan sebagai ”mewakili wong Semarang” karena dilakukan waktu mereka bertempat tinggal di Semarang.

Sesuatu yang mempresentasikan perwujudan Kota Semarang tidaklah semata-mata dilakukan oleh subjek atau pelakunya, tetapi juga pada objek yang dilakukan. Raden Saleh – pelukis besar di balik lahirnya seni rupa modern Indonesia yang tinggal sekian lama di Eropa, Batavia dan dimakamkan di Bogor – akan tetap dikenang sebagai ”wong Semarang” karena lahir sebagai cucu Kanjeng Kiai Terboyo dan menghabiskan masa kanak-kanaknya di wilayah Kaligawe.

Kriteria ini berlaku untuk novelis NH Dini yang pernah bermukim di Perancis, perupa Edi Hara dan Bambang Ariyanto yang tinggal di Eropa dan Kanada, atau Jaya Suprana, Direktur Jamu Jago dan pianis kelahiran Bali, bersekolah di Jerman, dan hidup sebagai ”bohemian” dari satu ke kota dunia yang lain. Begitu pula halnya dengan Mas Darmanto Jt, penyair dan esais dari Jogja. Mereka dan karyanya telah mempresentasikan Kota Semarang, sebab mereka lahir, pernah tinggal, dan mendedikasikan karyanya berupa spirit kota yang pluralistik dalam karya-karyanya.

Merujuk pada kriteria ”ius soli” tersebut, dapat kita catat sejumlah ”wong Semarang” yang saat ini berprestasi dalam forum nasional/internasional. Prestasi mereka sangat membanggakan warga kota ini, bukan saja karena mereka tercatat sebagai ”wong Semarang njekek” alias asli kelahiran Semarang, tetapi apa yang dilakukan telah memberi makna bagi bangsa ini. Mereka antara lain adalah Sri Mulyani yang Direktur Bank Dunia, Tjahyo Kumolo (Mendagri), Retno Lestari Marsudi (Menteri Luar Negeri), Sutiyoso (Kepala BIN), Hendrar Prihadi (mantan Wali Kota Semarang), dan komedian Tukul Arwana.

Selain mereka, terdapat seniman-seniman (muda) dari Semarang yang telah berhasil menorehkan namanya di forum nasional atau mulai membuka jendela kreativitas di forum dunia, di antaranya Triyanto Triwikromo (penyair, novelis) dan Yoyok Priyambodo (penari), menyusul Heru Emka, Handry TM, Driya, Timur Suprabana, Agus Dhewa (sastra), Kok Po, Antok, Kurnia (pelukis), Hoesi, Ibnu Talhah, Yehana, Goen (kartun), Kely Puspita (musik keroncong), Ki Narto Sabdo, Joko Hadiwijoyo, Ki Sutadi (pedalangan, karawitan), Gembong Loekito, Ton Lingkar, St.Soekirno, Widyo Leksono (teater), Agus Maladi, Handry TM (film), Adin, Teha Edi Johar, Mahmud El Qodri, Teguh SCTV, (jaringan seni), S. Prasetya Utama, Tjetjep TR (esai), dan sebagainya.

Dalam beberapa tahun terakhir ini Semarang telah merintis jaringan dengan berbagai komunitas seni melalui forum Jazz Ngisor Ringin, Semarang Contemporary Art Gallery, Festival Dunia Bambu, Semarang Art Festival, P (B) azaar Seni Semarang, FK Mitra, Pesta Hujan, Festival Semarang, Festival Pandanaran, Oen Fondation, dan lain-lain. Sayang, di samping ada yang terus eksis, tidak semua forum itu dapat terus berlangsung, Beberapa di antaranya telah ”mati suri” dengan meninggalkan kenangan, sejarah, dan prestasi masing-masing.

Bertolak dari fakta dan data-data tersebut barangkali sudah saatnya kita – wong Semarang – merintis dan merajut kembali potensi kreatif di kota ini, agar impian ”Semarang Setara” yang ”berkepribadian dalam kebudayaan” itu tidak hanya menjadi mimpi atau ilusi. Semarang memerlukan ”orang gila” agar ilusi, mimpi serta potensi yang ada dapat terorganisasi dan ”meledak” menjadi peristiwa budaya yang mengukuhkan eksistensi kota ini!

Agar dapat eksis bersama, berjenis-jenis elemen dan komunitas seni yang berbeda-beda mata air kreatifnya itu haruslah memiliki spirit yang sama, yakni spirit Semarang yang bersumber pada tradisi pesisir Semarangan. Dengan spirit yang sama maka berbagai komunitas seni, komunitas adat, pemerintah daerah dan stakeholder niscaya akan bersatu, mengantarkan lebih banyak ”wong Semarang” bermain di forum lokal, nasional dan global! Sampeyan akan memulai? Mangga, saya siap mendukung! (*/aro/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -