Perajin Terancam Bangkrut

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

KENDAL – Para perajin tahu dan tempe di Kendal terancam bangkrut menyusul naiknya nilai harga dolar terhadap rupiah. Ini lantaran harga bahan baku kedelai impor mengalami kenaikan. Para perajin saat ini hanya bisa mengandalkan sisa stok kedelai masih ada sebelum naiknya dolar. Selain itu, perajin terpaksa memperkecil ukuran agar tidak kehilangan pelanggan dipasaran.

Salah seorang seorang perajin tahu dan tempe asal Brangsong, Agus Imam, mengatakan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika mengakibatkan harga kedelai impor mengalami kenaikan drastis. Dari Rp 7.000 menjadi Rp 7.700 per kilogramnya. “Padahal para perajin banyak yang mengadalkan kedelai impor daripada lokal. Karena ukuran kedelai impor lebih besar, selain itu kedelai impor lebih mudah didapat,” ujar Imam, Minggu (30/8).

Kenaikan bahan baku tidak hanya terjadi pada kedelai impor. Kedelai lokal juga megalami kenaikan dari Rp 6000 kini menjadi Rp 6.500 perkilogram. “Masalah ini ditambah lagi minimnya pasokan kedelai dari para pedagang,” tambahnya.

Meski harga bahan baku naik, para perajin tahu dan tempe tidak berani menaikkan harga jual produksinya. Hal itu tidak jika dinaikkan maka para pedagang akan enggan mengambil tahu dan tempe. “Satu-satunya cara, kami memperkecil ukuran produksinya guna menyeimbangkan modal dengan keuntungan yang didapat. Sebab kalau naik pasti masyrakat enggan membeli tahu dan tempe. Kalau diperkecil ukurannya, kami bisa rugi dan bangkrut,” lanjutnya.

Dalam kondisi normal, dirinya dapat memproduksi sekitar 55 tong tahu. Namun, beberapa pekan ini jumlah produksi berkurang menjadi 45 tong tahu. “Satu tongnya biasa dijual dengan harga Rp150 ribu,” paparnya.

Pedagang tahu dan tempe di Pasar Kendal, Ismiyatun, 41, mengaku permintaan tahu dan tempe masih stabil. Diakuinya, banyak pelanggan yang mengeluhkan ukuran tahu dan tempe yang mengecil. “Ada yang mengeluh. Tapi sepertinya sudah tahu kalau ada kenaikan harga bahan bakunya. Semoga kondisi ini tidak berlarut, kasihan masyarakat,” ujarnya. (bud/fth)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -