Rupiah Melemah, 1096 Buruh Pabrik Diberhentikan

673

“Sejak diberlakukannya jam kerja hanya dua shift, karyawan tidak lagi bekerja 26 hari dalam sebulan, tapi hanya 18 hari atau 20 hari saja. Sehingga pendapatan berkurang drastis, karena perusahaaan mengurangi jumlah produksinya,” ungkap Kholisah yang bekerja sebagai operator mesin tenun.

Ketua DPC SPN Kabupaten Pekalongan, Ali Sholeh, mengatakan bahwa sejak dua bulan terakhir telah tercatat ada 1096 anggota SPN yang di-PHK atau dirumahkan oleh pihak manajemen tempatnya bekerja. Lantaran lesunya penjualan dan tingginya harga bahan baku.

“Sampai awal September ini, sudah 1096 anggota SPN yang di-PHK. Jumlah itu akan terus bertambah mengingat masih ada 1800 karyawan lainnya yang kini hanya bekerja paruh waktu, karena pabrik sudah mulai mengurangi produksinya,” ungkap Ali Sholeh.

Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan Pelindungan dan Ketenagakerjaan, Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsosnakertrans), Kabupaten Pekalongan, Abdul Kholik, membantah bahwa ada 1096 buruh pabrik di Kabupaten Pekalongan telah mengalami PHK. Namun dirinya membenarkan ada sekitar seribu lebih buruh pabrik yang sedang melakukan pertemuan dua belah pihak atau Bipatrit, yakni antara buruh atau karyawan dengan pihak manajemen.

Menurutnya Bipatrit tersebut dilakukan, karena belum ada titik temu antara keinginan karyawan dan solusi yang ditawarkan oleh pihak management, antara karyawan tersebut diberhentikan total atau dirumahkan sementara.

“Kalau informasi adanya bipartit antara buruh dan pihak manajemen memang ada. Karena perusahaan mengalami kelesuan dalam penjualan dan naiknya biaya produksi termasuk bahan baku. Namun kalau surat resmi dari pihak pabrik ke Dinsosnakertrans yang memberitahukan terjadinya PHK, belum menerima,” tegas Abdul Kholik. (thd/ida)