Wisata Bandungan Semakin Kumuh

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

BANDUNGAN – Maraknya pedagang kaki lima (PKL) di trotoar sepanjang jalan di Bandungan dinilai memperburuk citra Bandungan sebagai kota wisata. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten Semarang diminta tegas untuk menertibkan dan menindak para pedagang kaki lima (PKL) di trotoar tsesebut.

Sebab, hampir sepanjang trotoar di kota wisata Bandungan penuh pedagang. Akibatnya warga maupun wisatawan tidak bisa menggunakan trotoar dan berjalan di jalur kendaraan. Imbasnya kemacetan semakin parah dan memicu penurunan kunjungan wisata ke lokasi tersebut.

Salah seorang wisatawan, Hartono, 50, warga Banyumanik, Kota Semarang menilai Bandungan surge wisata. Tapi karena tidak ada penataan terutama para pedagang yang berjualan liar, membuat kesan kumuh dan timbulnya kemacetan. “Setiap liburan ke sini yang terjadi kemacetan. Jadi saya tidak bisa merasakan surge wisata,” kata Hartono, Minggu (6/9) kemarin.

Kondisi kota wisata Bandungan yang semrawut dan kumuh juga menjadi sorotan kalangan DPRD Kabupaten Semarang. Anggota DPRD Kabupaten Semarang, Said Riswanto menilai butuh penanganan serius di Bandungan. Pemkab harus tegas untuk menertibkan pedagang di trotoar. “Masyarakat punya hak untuk menggunakan trotoar. Kalau digunakan untuk berjualan, mereka yang mau jalan kaki kesulitan. Sementara berjalan di tepi jalan khawatir terserempet kendaraan,” kata Said yang tinggal di Bandungan.

Ketua DPRD Kabupaten Semarang, Bambang Kusriyanto menilai, Pemkab tidak tegas, sehingga banyak PKL memanfaatkan trotoar untuk berjualan. Jika kondisi ini dibiarkan tentu akan semakin membuat semrawut dan kumuh. Pemerintah sebenarnya menyediakan pasar bunga di desa Candi Bandungan. Tapi pedagang tidak mau memanfaatkan dan justru berjualan di trotoar dan pinggir-pinggir jalan.

“Kondisi ini membuat Bandungan semakin semrawut, macet dan terkesan kumuh. Butuh ketegasan dari pemerintah, untuk memindahkan para pedagang tersebut. Seperti pedagang bunga dipindah ke pasar Bunga. Kalau pasar yang sudah dibuat tidak digunakan tentu selamanya mangkrak,” tambahnya. (tyo/fth)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -