Muhammadiyah Lebih Cepat Satu Hari

Must Read

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu...

SEMARANG – Tahun ini, pelaksanaan Hari Raya Idul Adha diperkirakan bakal berbeda. Pasalnya, Muhammadiyah telah menetapkan Hari Kurban pada 23 September, atau lebih cepat sehari dari pemerintah yang menetapkan 10 Zulhijah jatuh pada Kamis (24/9) mendatang.

Wakil Ketua Pengurus Wilayah (PW) Muhammadiyah Jateng, Rosihan, saat ditemui Jawa Pos Radar Semarang di kantornya, Rabu (16/9), mengatakan, penentuan Hari Raya Idul Adha oleh Muhammadiyah tersebut didasarkan pada hisab, yang sekalipun ketinggian hilal masih kurang dari satu derajat.

”Pada tanggal 23 September, warga Muhammadiyah di seluruh Indonesia sudah merayakan Idul Adha. Karena tanggal 23 sudah Idul Adha, otomatis waktu wukufnya berbeda, karena di Arab Saudi wukuf dilaksanakan pada tanggal 23,” jelas Rosihan.

Karena Muhammadiyah sudah menetapkan Idul Adha pada 23 September, maka warga Muhammadiyah terutama di Jateng diimbau untuk melaksanakan puasa Arafah pada 22 September. Ini karena terdapat perbedaan serta masuk wilayah itjtihadiyah (wilayah pemikiran manusia, Red). ”Jadi, apakah puasa Arafah itu termasuk kategori wukui (peristiwa)? Kalau mengikuti peristiwa, ya tanggal 23 itu baru puasa. Sementara itu, Muhammadiyah tanggal 23 sudah Idul Adha. Artinya, Muhammadiyah tanggal 22 sudah melakukan puasa Arafah,” katanya.

Ketua PW Muhammadiyah Jateng, Musman Tholib, menambahkan, dalam menentukan waktu Idul Adha, Muhammadiyah menggunakan pendekatan Tarikhi serta mengikuti salah satu pesan Rasulullah yang dirinya saat sebelum haji sudah melakukan puasa.

”Karena itu, perbedaan seperti ini merupakan sesuatu yang biasa, karena Muhammadiyah tahun lalu wukufnya bersamaan dengan Arab Saudi. Yang pada waktu itu pemerintah malah berbeda. Artinya, puasa Arafahnya mundur satu hari,” ujarnya.

Karena wilayah itjihadiyah, lanjutnya, maka Muhammadiyah menggunakan pendekatan teori musowibah. Yakni, hasil ijtihad semuanya harus dianggap benar. Muhammdiyah juga berharap supaya ada kalender global.

”Kalender Komariah yang bersifat internasional. Sehingga diharapkan dengan kalender Komariah internasional tersebut, pelaksanaan hari raya di seluruh penjuru dunia tidak ada perbedaan. Dan itu memang sudah diusulkan oleh Muhammadiyah kepada negara-negara yang terlibat dan mengikuti teori hisab tersebut,” katanya. (ewba/aro/ce1)

- Advertisement -

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

- Advertisement -

Latest News

Makan Menko

Pak Jaya Suprana menghubungi saya. Paguyuban Punokawan akan audensi dengan Menko Polhukam, Prof. Dr. Mahfud MD. Tapi saya lagi di...

Sepanjang Tahun 2019 Ada 1.576 Calon Janda Baru di Kajen

RADARSEMARANG.COM, KAJEN – Sepanjang tahun 2019 hingga bulan Desember kemarin, tercatat Pengadilan Agama Kajen sebanyak 1.576 terjadi kasus gugat cerai. Hal itu disampaikan oleh...

Langkah Kecil

Mereka baru sebulan kuliah di mancanegara. Di Zhejiang University of Technology. Tiga wanita berjilbab itu. Tiga lagi laki-laki --satu anak kiai, satu lagi anak...

Neo Mustaqbal

Sejarah dunia akan dibuat oleh Arab Saudi. Sejarah pertama: Aramco akan go public --dengan nilai yang belum ada duanya di dunia: Rp 28.000.000.000.000.000. Kedua: hasil IPO itu akan...

Rumah Kita

Kaget-kaget senang: Indonesia resmi ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20. Tahun 2021. Sepak bola Indonesia diakui dunia. Prestasi Presiden Joko ”Jokowi” Widodo kelihatan nyata...
- Advertisement -

More Articles Like This

- Advertisement -