Warga Desak JKB Ditutup

1935

Sukarsono menambahkan, warga meminta agar JKB mengelola dengan baik sehingga debu tidak mengganggu warga. Terutama polusi itu terjadi saat produksi memecah dan menghancurkan batu. Bahkan JKB produksi hampir 24 jam sehingga warga sangat terganggu. Warga juga meminta agar JKB mengembalikan fungsi rawa yang telah diurug untuk dijadikan pabrik. “Dulu kondisinya tidak seperti ini. Kami meminta agar tidak ada polusi udara, sehingga warga dapat hidup sehat dengan udara yang bersih,” imbuhnya.

Ali Fatkhudin, 50, warga Rowosari, Kelurahan Karangjati, menambahkan, sebelumnya JKB menjanjikan Rawa Wringin Putih akan ditata untuk dijadikan tempat wisata termasuk di dalamnya warung lesehan yang dapat dimanfaatkan warga untuk berjualan. Tetapi pada akhirnya diurug untuk dijadikan pabrik. “Ini jelas melanggar Undang undang lingkungan hidup. Sebab rawa ini dijadikan tempat cadangan air, jika diurug jelas merusak ekosistem alam. Kalau diukur pakai GPS ijin untuk pabrik semestinya di gunung Mergi bukan di rawa ini,” ujarnya.

Ali menilai kondisi seperti ini disebabkan karena Pemerintah Kabupaten Semarang yang tidak tegas menegakan aturan. Bahkan terkesan tidak pro rakyat dan lingkungan, sebab rakyat dibiarkan terkena polusi. “Kenapa sampai saat ini Bupati diam saja, semestinya harus tegas memerintahkan instansi dibawahnya untuk menindak JKB. Sebab selama ini kita sudah mengadu tapi tidak ditanggapi serius,” tandasnya.

Pimpinan JKB, Dahwan mengatakan bahwa keberadaan pabrik sudah ada perijinannya dan sesuai ketentuan. Selain itu pihaknya sudah berupaya meminimalisir polusi akibat produksi. “Kami tetap mendengar aspirasi warga sekitar pabrik. Bahkan selama ini kami sudah berupaya meminimalisir debu. Termasuk menanam pohon untuk meningkatkan kualitas lingkungan,” katanya.

Dahwan menambahkan dalam waktu dekat pihaknya akan membuat jaring penangkap debu. Sehingga tidak ada lagi debu yang dikeluhkan warga. “Kami akan menambah alat springkle berupa jaring yang dialiri air sehingga debu masuk ke situ. Sehingga debu tidak terbang kemana mana. Alat itu lebih praktis, agar tidak menimbulkan polusi,” tambahnya. (tyo/fth)